Generasi “Praetorian”

Banyak orang termakan isu HOAKS dan tidak tanggung-tanggung untuk diceritakan kepada yang lain seolah itu benar adanya. Inilah penyakit diskursus generasi masa kini yang saya istilahkan dengan Generasi Praetorian.


Foto: Orind Lado Wea
Oleh: Orind Lado Wea*

“Sebab hidup terlalu singkat
untuk membiarkan orang lain
menentukan apa yang membuat kita bahagia”
(Ernest Prakasa)

Sejenak saya terhanyut dalam diam ketika berusaha memahami kata-kata Prakasa di atas. Ini bukan soal keindahan kata yang terpapar tetapi lebih jauh tentang kedalaman arti yang sungguh menggugah. Kata-kata di atas serentak memantik naluri ke-muda-an saya untuk menelisik peran pemerintah dan juga masyarakat warga dalam hubungan dengan kehidupan bersama sebagai warga nergara.

Marcus Mietzner, penulis buku Military Politics, Islam, and the State in Indonesia : from Turbulent Transition to Democratic Consolidation (Mietzner, 2009), menulis demikian, modal politik Orde Baru yang ditopang oleh kekuatan militer dan birokrasi, menjalankan model hubungan sipil-militer. Ia mengistilahkannya sebagai model “praetorian”. Lantas apa artinya? Praetorian merupakan model kekuasaan dimana militer memegang kendali penuh dalam penyelenggaraan negara.

Hasil perkawinan politik antara militer dan sipil melahirkan sebuah tatanan yang mapan dan anti kritik. Mapan dalam arti represif dan otoriter dan karenanya, kestabilan semulah yang dinikmati entah dengan atau tanpa sadar oleh masyarakat warga. Model ini bahkan menciptakan manusia-manusia yang loyal kepada militer.

Rezim Orde Baru telah tumbang beberapa tahun silam. Namun loyalis-loyalisnya masih hidup sampai saat ini. Sebagai warga negara tentu setiap orang punya hak yang sama untuk hidup dan dihidupi oleh negara. Pertentangan ideologi, diskursus politik, ekonomi, sosial dan sebagainya di ruamg-ruang kuliah, di warung-warung kopi sampai di pasar-pasar tempat ibu-ibu berjualan sangat masih terjadi.

Semua orang terlihat bebas dan merdeka untuk menyampaikan apa yang menjadi buah pikirnya ke ruang publik. Namun, satu hal yang niscaya terjadi dalam setiap topik diskursus yang terjadi adalah adanya berita bohong. Banyak orang termakan isu HOAKS dan tidak tanggung-tanggung untuk diceritakan kepada yang lain seolah itu benar adanya. Inilah penyakit diskursus generasi masa kini yang saya istilahkan dengan Generasi Praetorian.

Generasi praetorian adalah generasi yang tunduk pada “kekuatan” informasi bohong tanpa mencari sumber kebenarannya. Ketidakbenaran adalah panglima tertinggi dalam wacana kehidupan bersama. Ada banyak faktor yang memengaruhi realitas tersebut. Beberapa diantaranya adalah keterbatasan penghetahuan, propaganda media telekomunikasi dan informasi sampai pada kesengajaan beberapa pihak yang secara kontinu menyebarkan berita bohong.

Ironisnya, lahir pula pribadi-pribadi yang loyal untuk mempertahankan berita sumbang demi tujuan tertentu. Dan yang terakhir biasanya laku dimusim politik. Alhasil, kebenaran kian tersisih dari domainya mengikuti logika mayoritas. Kebenaran adalah apa yang diyakini banyak orang sebagai yang benar bukan sebagai yang adanya.

Perlu Berbenah
Dinamika dan realitas hidup yang terjadi akhir-akhir ini sekiranya perlu diantisipasi dengan pelbagai hal yang coba saya bagi dalam tiga bagian. Pertama. Generasi praetorian akan kehilangan basis dialektikanya jika setiap orang secara sadar dan tegas menyaring setia berita yang diterima. Tentu ini tidak mudah tetapi bukan tidak mungkin. Keseriusan dalam menata cara berpikir lewat keberanian untuk menyapaikan apa yang benar merupakan hal dasar yang mesti dimiliki oleh setiap warga negara.

Banyak fakta ketimpangan yang terjadi misalnya, RAPBN yang terkesan populis dan tidak realistis ketika tahun politik, lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar, dan kenaikan BBM beberapa waktu lalu. Inilah petaka-saya sengaja menyebutnya demikian-yang akan merugikan masyarakat kecil.

Kedua.  Selain informasi politik yamg sering kabur air, fakta kemiskinan juga turut dipolitisasi. Kemakmuran bukan soal sejumlah tol dan jembatan yang telah dibangun atau soal sikap pemimpin yang berani turun gunung tetapi lebih jauh menyikapi problem kemiskinan yang dihadapi masyarakat bawah. BPS (2017) merilis, andil terbesar pada garis kemiskinan adalah bahan makanan pokok sebesar 73,35%. Lumbung kemiskinan ada di pedesaan. Dari 26, 58 juta penduduk miskin di Indonesia, 16. 31 juta (13, 37%) ada di pedesaan dan sisanya 10, 27 juta (7, 26%) ada di perkotaan.

Hemat saya, ini yang perlu dibenahi tentu bukan dengan cerita kesuksesan infrastruktur tetapi soal apa yang dapat rakyat makan. Bukankah amanat Konstitusi kita menugaskan kepada negara untuk mensejahterakan rakyatnya? Jika rakyat sejahtera maka kita bebas dari polemik generasi praetorian.

Ketiga. Setiap orang perlu menentukan bagaimana cara ia berbahagia karena hidup terlalu singkat ketika kebahagian itu adalah pemberian orang lain. Kebahagiaan dalam konteks ini diartikan sebagai kebebasan untuk berada sesuai adanya. Berhadapan dengan keberagaman dan perbedaan yang ada, setiap orang perlu diberi rasa aman oleh yang lain. Sikap egoistik-agama, ras, suku, dan status social- yang sering melanggengkan kebenaran mayoritas perlu dihindari. Nah, negara memiliki tugas mulia untuk mengatur hal ini.

Jika tidak, maka mereka (baca: negara) tidak lain adalah loyalis-loyalis generasi praetorian berwajah baru yang masih bertahan di negara ini. Negara-pemerintah-semestinya tetap dijalur rakyat karena itulah harapan satu-satunya untuk menciptakan perubahan. Tanpa hal itu maka negara tidak lain adalah oligarki berwajah humanis.

*Penulis adalah  anggota Lembaga Kajian, Penelitian dan Pengembangan PP PMKRI St. Thomas Aquinas periode 2018-2020.




COMMENTS

Nama

#Kita_Indonesia,15,#Pilpres2019,3,#RUUPesantrendanPendidikanKeagamaan.,1,Agama,1,Agus,1,Ahok,4,Aksi 2 Desember,1,Aksi Damai,1,Aktivis,1,Amandemen,1,Amnesti,1,Anas,1,Anastasia Rosalinda B,1,ANBTI,1,Andre Pareira,1,Angelo Wake Kako,1,Anies,1,Anies-Sandi,1,Anis Baswedan,1,Apel Kebangsaan,1,Artikel,2,AS,3,B ERITA PMKRI,1,BADJA NTT,1,Banjarmasin,1,Bara Pattyradja,1,Bayi,1,Beijing,1,Beijng,1,Berita,1,berita PMKRI,2,Berita PMKRI Kupang,2,Berita PMKRI Pusat,14,Berita PMKRI Ruteng,2,Berita PMKRI Samarinda,1,Bhumibol,1,Bogor,1,Bogor Tolak Khilafah,1,BPKP,1,Buaya,1,Bunda,1,Buni yani,1,Cagub,1,Cegah Radikalisme,3,Cerpen,3,Chrisantus Nana,1,Cipayung Plus,1,Daerah,26,Demo Susulan,1,Demokrasi,4,Den Haag,1,Denpasar,1,Densus Tipikor,1,Desak,1,Dhani,1,Dialog,1,Dibekap,1,Dibenturkan,1,Diciduk,1,Diplomasi,1,Dipolisikan,1,Dirjen Bimas Katolik,1,Ditangkap,4,Ditendang,1,Diteror,1,Djarot,1,DPD,4,DPD-RI,1,DPRD NTT,1,Dukun,1,Duta Genre,1,Ekologi,1,Eksekusi,1,Epenk Djawang,1,Era 4.0,1,Fahri,1,Febby Siharina,1,Florianus Herminus Mau,1,Fokus,8,Freeport,2,Gabriel Toang,1,Gadungan,1,Geert Wilder,1,Gempa Lombok,6,Gempa NTB,3,Gempa Palu,3,Gempa Palu #Kita_Indonesia,4,GP Ansor,1,Gratifikasi,1,Greget,1,GUSDURian,1,Gusma,1,Habib Riziq,1,Hari Kartini,3,Hari Pahlawan,3,Hillary,1,Hillary Clinton,1,Hindari Kriminalisasi,1,Hoax,1,Human Trafficking,2,ICRP,1,ICW,1,Ignatius Pati Ola,1,Impor Garam,1,Intan,1,Intelijen,1,Internasional,25,IrmanGusman,3,ISIS,1,Islamophobia,1,Israel,1,Istri Dimas kanjeng,1,Jaga Toleransi,1,Jajak Pendapat,1,Jakarta,23,JEMI BERE,1,Jipik,1,Jokowi,2,Jurnalistik,1,Kabar PMKRI Maumere,2,Kabar IMCS,1,Kabar PMKRI,11,Kabar PMKRI Ambon,3,Kabar PMKRI Bogor,1,kabar PMKRI Denpasar,1,Kabar PMKRI Jambi,1,Kabar PMKRI Makassar,2,Kabar PMKRI Malang,2,Kabar PMKRI Mataram,1,Kabar PMKRI Nasional,1,Kabar PMKRI Nias,1,Kabar PMKRI Palopo,1,Kabar PMKRI Pekanbaru,5,Kabar PMKRI Pematangsiantar,1,Kabar PMKRI Pontianak,1,Kabar PMKRI Ruteng,5,Kabar PMKRI Samarinda,3,Kabar PMKRI Sintang,1,Kabar PMKRI Yogyakarta,2,Kalimantan Selatan,2,Kampanye,2,Kapolda,1,Kapolda Metro Jaya,1,Kapolri,2,Kasidi,1,Katolik,1,Kebhinekaan,2,Kejari,1,Kekerasan Militer,1,Kembalikan,1,Khawatir MUI Ditunggangi,1,Kita Indonesia,16,Komnas HAM,2,Komputer,1,KontraS,1,Korupsi,1,KPK,3,KWI,1,Lembaga Kajian PP PMKRI,1,LIPI,1,Logo PMKRI,1,Lulung,1,Mahasiswa Papua,2,Mahmudi,1,Majelis Adat Dayak,1,Makasar,1,Malang,1,MANGGARAI,1,Mars Wera,1,Marz Wera,1,Mata Rakyat,1,MEA,1,Megawati,1,Menag,1,Menhan,1,Menlu Tongkok,1,Michell Rompis,1,Militan,1,Militer,1,MPAB,3,MPAB PMKRI Ruteng,1,Muchdi,1,Munir,1,Mutilasi,1,Myanmar,1,Narkoba,1,Nasional,79,Natalius Pigai,1,Nawacita Jokowi Gagal,1,New York,3,NKRI,1,NU,1,Obama,1,OMK,1,Opini,46,Orang Muda,1,Ormas,1,Ovin Gili,1,Papua,2,Parade Bhineka Tunggal Ika,1,Pariwisata,1,Partai Komunis,1,Patung Buddha,1,Paulus Gemma Galgani,1,Paus,2,Paus Fransiskus,1,PDIP,1,Peduli Kemanuisan.,1,Pembangunan,1,Pemboman,2,Penangguhan,1,Perbedaan,1,Perempuan,1,Pesan Prabowo,1,PHPT PP PMKRI,1,Pilkada,2,Pilkada Damai,1,Pilkada Jakarta,2,Pilpres 2019,5,Pilpres2019,4,PKB,1,PMII,1,PMKRI,41,PMKRI ATAMBUA,1,PMKRI Bandar Lampung,1,PMKRI Banjarmasin,1,PMKRI Bengkulu,1,PMKRI Ende,2,PMKRI Jakarta Pusat,2,PMKRI Jayapura,1,PMKRI Juara,1,PMKRI Kendari,1,PMKRI Kupang,7,PMKRI Makassar,3,PMKRI Malang,4,PMKRI Manado,1,PMKRI Maumere,7,PMKRI Palembang,1,PMKRI Peduli,6,PMKRI Pontianak,1,PMKRI Sungai Raya,1,PMKRI Tondano,1,PMKRI Tual,1,PMRI Ende,1,PNS,1,Polemik UPR,1,Polisi,3,Politik,1,Politisasi SARA,1,POLTEK Kupang,1,PP GMKI,1,PP PMKRI,10,Press Release,5,Pribumi,1,Profil,1,Puisi,11,Pungli,1,Putin,1,Radikalisme,1,Raja,1,RAKERNAS,1,RAKERNAS PMKRI,3,Ratna Sarumpaet,1,Refleksi Hari Kartini,2,Regional,35,Rendi,1,Rendy Stevano,2,Rikard Djegadut,1,Risma,1,Rizieq,2,Robertus Dagul,2,Rudal,1,Rumah,1,Rusia,1,Sakinem,1,Samarinda,3,Sandiaga,1,Seribu Lilin,1,Setya Novanto,2,Siaran Pers,3,Sistem,1,Siti Zuhro,1,Somalia,1,SPI,1,Strategi,1,Sukmawati,1,Suriah,1,Swedia,1,Tahan Ahok,1,Tanjung Balai,1,Tedy Ndarung,1,Teologi Maut,1,Tepo Seliro,1,Teresa,1,Terorisme,1,Thomas Tukan,1,Thomson Sabungan Silalahi,1,TNI,3,Tolak HTI,2,Tomson Silalahi,1,Transaksi,1,Trump,3,Tumor Ganas,1,Uang,1,UNDANA Kupang,1,Unipa Maumere,1,Uskup Kupang,1,Vebivorian,1,Verbivorian,8,Verbivorian. PMKRI Jakarta Pusat,2,Wali Kota,1,WaliKota,1,Wanita Berjilbab,1,Wartawan,1,Wikileaks,1,Wiranto,1,Xi Jimping,1,Yensiana,1,Yogen Sogen,3,
ltr
item
VERBIVORA.COM: Generasi “Praetorian”
Generasi “Praetorian”
Banyak orang termakan isu HOAKS dan tidak tanggung-tanggung untuk diceritakan kepada yang lain seolah itu benar adanya. Inilah penyakit diskursus generasi masa kini yang saya istilahkan dengan Generasi Praetorian.
https://1.bp.blogspot.com/-dZQ-Z2YaCbg/W5dTlDSvZ5I/AAAAAAAABC0/ZMeIjZ-RtOofpdMROWAPM9r_Jap0AKJAwCLcBGAs/s640/51177150-10a1-4d51-8e78-4375b0a5634a.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-dZQ-Z2YaCbg/W5dTlDSvZ5I/AAAAAAAABC0/ZMeIjZ-RtOofpdMROWAPM9r_Jap0AKJAwCLcBGAs/s72-c/51177150-10a1-4d51-8e78-4375b0a5634a.jpg
VERBIVORA.COM
http://www.verbivora.com/2018/09/generasi-praetorian.html
http://www.verbivora.com/
http://www.verbivora.com/
http://www.verbivora.com/2018/09/generasi-praetorian.html
true
1552102979589694575
UTF-8
Semua postingan Belum ada postingan LIHAT SEMUA Selengkapnya Balas Batal Balas Delete Oleh Home HALAMAN POSTINGAN Lihat Semua Rekomendasi LABEL ARSIP CARI SEMUA POSTINGAN Tidak ditemukan postingan yang Anda cari Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Mgu Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu lalu Follower Follow KONTEN PREMIUM Bagikan untuk buka kunci Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy