Menalar Gerakan PMKRI di Era Post-Truth

Menjadi seorang aktivis PMKRI harus melatih dirinya dan terus mengasah keberanian serta ketahanan semangatnya laksana batu karang

Ket. Okto Nahak. (Foto. Dok. Pribadi)

Oleh: Okto Nahak*

Apa yang ada di dalam benak sahabat pembaca, khususnya para aktivis PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia), yang hidup di tengah masyarakat yang ditandai dengan banyak penderitaan seperti kemiskinan, diskriminasi, kesenjangan sosial dan ekonomi serta peminggiran? Ada yang bertanya, masih mungkinkah visi-misi perhimpunan memiliki daya menjawab tantangan di segala dimensi kehidupan masyarakat? Atau masihkah visi dan misi organisasi menjadi orientasi gerakan perhimpunan atau sebatas slogan semata.

Ataukah visi-misi perhimpunan konsisten serius diarahkan kepada kaum tertindas? Sebab, beberapa tahun terakhir nampak tumpul gerakan aktivis PMKRI dalam menjawab kebutuhan kaum tertindas tersebut bahkan lebih parah lagi kita enggan bersentuhan dengan mereka. Apa penyebabnya?

Visi-misi dari sebuah organisasi merupakan ideologi bagi setiap anggotanya, ideologi menjadi penuntun dan titik orientasinya. Disebut ideologi karena ada perspektif yang berkoherensi dan komprehensif. Begitu pula dalam organisasi seperti PMKRI. PMKRI memiliki Visi: Terwujudnya keadilan sosial, kemanusiaan dan persaudaraan sejati; sedangkan Misi : Berjuang dengan terlibat dan berpihak kepada kaum tertindas melalui kaderisasi intelektual populis yang dijiwai nilai-nilai ke-Katolikan untuk mewujudkan keadilan sosial, kemanusiaan dan persaudaraan sejati.

Secara gamblang, penulis merasa perlu menekankan dua (2) kalimat dari isi visi-misi tersebut yang menjadi titik point pembahasan. Pertama, 'melalui kaderisasi intelektual populis' artinya melalui pendidikan dan pembinaan yang berpihak pada masyarakat kecil. Secara baku, PMKRI memiliki tiga (3) tahap pendididikan dan pembinaan yakni pendidikan formal, nonformal dan informal. Pendidikan dan pembinaan anggota perlu diarahkan pada konteks masyarakat kecil. 

Selain pendidikan dan pembinaan tersebut, ada nilai-nilai vital PMKRI seperti tiga benang merah (kristianitas-intelektulitas-fraternitas) yang terus mengkristal pada seorang kader PMKRI, supaya senantiasa menjadi kompas penuntun pada setiap aktivitasnya. Dan ketika bersentuhan dengan realitas kehidupan masyarakat. 

Tiga benang merah PMKRI, sebagai nilai pengikat dan penuntun bagi anggota organisasi, juga menjadi nilai yang terbuka bagi orang lain diluar organisasi. Karena nilai-nilai PMKRI di atas sangat terbuka, logis dan tak terbatas. Maka, tidak menutup kemungkinan orang non PMKRI pun bahkan dapat belajar sekaligus mempraktikannya. Ini yang membuktikan bagaimana nilai-nilai PMKRI yang masih berdiri kokoh sekaligus masih relevan dengan segala konteks zaman dan generasi. 

Gerakan PMKRI Terhadap Kaum Tertindas

Dalam agenda-agenda nasional PMKRI, kita menemukan berbagai macam karakter dan ciri khas cabang baik secara fisik maupun nonfisik. Ini merupakan kekayaan organisasi yang harus dirawat. Seorang kader atau aktivis PMKRI di setiap cabang dididik dan dibina dengan memperhatikan kultur dan kondisi topografi daerahnya dalam satu garis perjuangan yakni berjuang dengan terlibat dan berpihak pada kaum tertindas. Ini yang menjadi point ke dua. Oleh karena itu kita dihadapkan langsung pada pertanyaan yang serius: Siapakah kaum tertindas yang dimaksud?; Bagaimana PMKRI secara organisasi memandang kaum tertindas tersebut sebagai pihak yang harus diperjuangkan?.

Segala sesuatu berubah. Tidak ada yang absolut atau tetap. Silogisme sederhana logika dari preposisi bahwa "A" sama dengan "A". Tetapi pada kenyataannya "A" tidak sama dengan "A". Sebagai contoh Kaum tertindas tidak akan selalu menjadi kaum tertindas. Atau contoh lain ketika zaman komunal primitif berganti zaman perbudakan, berubah feodalisme kemudian menjadi kapitalisme. Ini semua nyata apabila kita menempatkan pemikirian dialektis-materialis terhadapnya. 

Sehingga seorang aktivis PMKRI cukup mengajukan pertanyaan, apa penyebab pemisahan antar kaum tertindas sebagai kaum mayoritas masyarakat dengan kaum penindas sebagai kelompok minoritas masyarakat? Bagaimana cara kerjanya dan apa yang diproduksi?

Ini akan menghantar seorang petualangan yang kritis pada pintu kemerdekaan rakyat kaum tertindas. Seperti halnya Visi dan misi dapat berubah apabila tak ada lagi kaum tertindas. Mengambil langkah seperti memerdekakan kaum tertindas tidak hanya sekedar merubah frase terhadapnya tapi berjuang dengan terlibat dan berpihak kepadanya dari belenggu sistem penindasan. Setiap aktivis PMKRI perlu mencari tahu, apa penyebabnya, dan bagaimana seseorang atau sekelompok orang itu terjebak menjadi kaum tertindas, sebab tak ada seorangpun yang lahir mau memilih menjadi kaum tertindas.

PMKRI sebagai Kontrol Sosial  

Bicara mengenai ingatan akan membantu yang lemah dan merawat pergerakan, kita tidak hanya berbicara sambil menggerutu mengenai pembebasan umat tertindas dibalik meja diskusi. Kita tak dapat menghasilkan suatu perspektif dari balik gedung sekertariat yang megah. Perspektif hanya diperoleh lalu diasah melalui pengalaman mengalami langsung dan meleburkan diri dengan masyarakat tertindas. 

Masyarakat tertindas itu seperti petani, nelayan, kaum miskin kota (Pedagang kaki lima, pemungut sampah dan lain sebagainya), kaum muda dan mahasiswa/pelajar yang tidak memiliki kepastian akan masa depannya, terlebih kaum buruh yang telah menciptakan kekayaan negeri ini dari balik kedua tangannya namun tak dapat menikmati hasil produksinya dan selanjutnya buruh yang tak mau menyebut dirinya buruh seperti artis, dosen/guru, dan lain sebagainya). Ini adalah kelompok mayoritas masyarakat yang setiap hari diperas dan dihisap keringatnya. 

Hal di atas tidak didapat dari dunia maya. Karena itu kita tidak perlu terlalu banyak mengonsumsi berita di media sosial apalagi menjadikannya sebagai referensi ilmiah untuk memperkut perspektif kita. Media sosial adalah tempat kita beradu argumen bukan tempat curahan hati karena kondisi asmara sedang terganggu misalnya. Karena itu, berhentilah menulis kegalauan di media sosial. Dunia maya adalah dunia yang telah didesign sedemikian rupa oleh penguasa, tak hanya bersifat menghibur tapi ada agenda indoktrinasi yang telah berlangsung cukup lama. 

Lebih jauh lagi dunia maya saat ini ibaratnya konsep Utopia seperti yang ditulis oleh Thomas More yang menimbulkan halusinasi akan tempat yang indah yang sebetulnya adalah kebohongan yang terselubung dengan daya doktrinasi. Berhentilah mengkonsumsi doktrinasi. Perbanyak literatur dalam kehidupan keluarga, lingkungan kost, kampus dan lingkungan sosial masyarakat. Kader PMKRI harus menjadi agen of change sekaligus agen of control. Ini tuntutan sejarah.

Ilmu yang telah didapat baik dalam organisasi maupun lingkungan pendidikan harus diamalkan kepada masyarakat. Pengetahuan harus digali dari sumber penderitaan kaum tertindas dengan cara meleleburkan diri sekaligus bersentuhan dengan kehidupan sosial mereka. sehingga dapat membentuk perspektif baru. Sebab kesadaran sejak awal adalah produksi sosial dan tetap demikian selama manusia eksis. Kondisi sosial mempengaruhi kondisi riset ilmiah seseorang. Ilmu yang telah didapat menjadi mubazir ketika tidak digunakan untuk menyelesaikan masalah sosial kehidupan mereka hanya karena tuntutan akademik semata. 

Bukan hal yang baru pula, teori yang didapat di kampus kadang tak berkorelasi dengan kondisi sosial masyarakat. Sehingga setiap teori perlu diuji sejauh mana tingkat relevansinya dengan praksisnya dalam masyarakat. Disisi lain tuntutan akademik sering membatalkan pemikiran yang bebas, liar dan mandiri. Ini akibat kultur belajar yang tidak memberi ruang bebas berpikir dalam ruang kelas. Situasi ini membelenggu mahasiswa dan perlahan membangun tembok kreativitas, menghalangi sensasi keakraban berdialektika antar pengajar dan sebaliknya yang terjadi dalam atau di luar ruang kelas.

Kembali Pada Kebenaran Hidup Berpemkri

Mengapa disebut aktivis PMKRI? Apa yang membedakannya dari mahasiswa biasa?. Jawabanya ada dalam 6 identitas kader seperti dibawah ini. Pada dasarnya pembinaan di PMKRI ditujukan untuk membantu membentuk para anggota PMKRI dalam mencapai keunggulan pribadi dengan integritas pribadi yang utuh. Integritas pribadi yang utuh, yang hendak dicapai dapat dicirikan oleh: Sensus Chatolicus, Semangat Man For Others, Sensus Hominis, Pribadi yang menjadi teladan, Universalitas, Magis Semper.

Semua orang dapat menjadi mahasiswa namun tidak semua mahasiswa dapat menjadi aktivis. Kesadaran yang tinggi untuk ikut berpartisipasi dalam kehidupan sosial masyarakat hanya dimiliki oleh seorang aktivis gerakan. Sedangkan mahasiswa belum tentu di zaman ini. Namun ini tidak akan berlangsung lama jika kondisi sosial memungkinkan. 

Disisi lain, menjadi seorang aktivis PMKRI berarti memberikan sebagian waktunya untuk memperhatikan nasib orang banyak dan bangsa selain kamu. Siap-siap bagi cowo/cewe yang ingin memacarinya. Karena banyak kata-kata asing yang akan menyambar telingamu, kalo sedang pacaran sediakan kamus besar bahasa Indonesia (KBBI). Bangsa aja dipikirin apalagi kamu.

Menjadi seorang aktivis PMKRI harus melatih dirinya dan terus mengasah keberanian serta ketahanan semangatnya laksana batu karang. Militansinya akan bertumbuh produktif bila dituntun dengan perspektif yang komprehensif. Bukan aktivis PMKRI yang fashionable atau heroinisme (megang toa lalu dipotret dengan baik atau 'merawat' atribut tapi lupa merawat akal). 

Mereka yang tidak final mengambil suatu perspektif yang revolusioner akan bermain di wilayah pragmatis. Inilah 'hantu' yang sedang membayangi diri kita. Seringkali aktivis PMKRI mengidap Syndrom Demora sebelum mengalami demoralisasi. Sadarlah kita dan kembalilah kejalan yang benar. Itu perintah bible.

Pro ecclesia et patria !!!

*Penulis adalah aktivis PMKRI Bogor

COMMENTS

Nama

''Untuk Gereja dan Tanah Air,6,#72thnber-PMKRI,2,#Bergelimang,1,#Gerejalokal,1,#hidup & Sastra,2,#Kita_Indonesia,31,#MABIM2019,3,#NKRI,1,#Pemilu2019,3,#Penulisbuku,1,#Pilpres2019,8,#ProEcclesiaEtPatria,5,#Regulasi,1,#RetNas,1,#RUUPesantrendanPendidikanKeagamaan.,1,#SalamBhineka,2,Agama,1,Agus,1,Agustina Doren,3,Ahok,4,Aksi 2 Desember,1,Aksi Damai,1,Aktivis,1,Alboin Samosir,2,Alfred R. Januar Nabal,2,Amandemen,1,Amnesti,1,Anas,1,Anastasia Rosalinda,1,Anastasia Rosalinda B,1,ANBTI,1,Andre Pareira,1,Angelo Wake Kako,1,Anies,1,Anies-Sandi,1,Anis Baswedan,1,Apel Kebangsaan,1,Artikel,2,AS,3,B ERITA PMKRI,1,BADJA NTT,1,bakti sosial,1,Banjarmasin,1,Bara Pattyradja,2,Bayi,1,Beijing,1,Beijng,1,Berita,6,berita PMKRI,2,Berita PMKRI Kupang,2,Berita PMKRI Pusat,16,Berita PMKRI Ruteng,2,Berita PMKRI Samarinda,3,Bhumibol,1,BKN,1,Bogor,1,Bogor Tolak Khilafah,1,BPKP,1,Buaya,1,Bunda,1,Buni yani,1,Bupati Lembata,1,Cagub,1,Cegah Radikalisme,3,Cerpen,3,Chrisantus Nana,1,Cipayung Plus,1,CPNS,1,Daerah,36,Deklarasi Kebangsaan,1,Demo Susulan,1,Demokrasi,4,Den Haag,1,Denpasar,1,Densus Tipikor,1,Desa Bantala,1,Desak,1,Dhani,1,Dialog,1,Dialog Kultural,1,Dibekap,1,Dibenturkan,1,Diciduk,1,Dies Natalis ke-72,2,Diplomasi,1,Dipolisikan,1,Dirjen Bimas Katolik,1,Ditangkap,4,Ditendang,1,Diteror,1,Djarot,1,Dominikus Dowo Koten,1,DPC PMKRI Malang,1,DPD,4,DPD-RI,1,DPRD NTT,1,Dukun,1,Duta Genre,1,Efraim Mbomba Reda,3,Ekologi,1,Eksekusi,1,Epenk Djawang,2,Era 4.0,1,Erens Holivil,1,ESDM,1,Fahri,1,Febby Siharina,1,Flores Timur,1,Florianus Herminus Mau,1,Fokus,8,Forum Temu Kebangsaan 2019,1,Freeport,2,Gabriel Toang,1,Gadungan,1,Geert Wilder,1,Gempa Lombok,6,Gempa NTB,3,Gempa Palu,3,Gempa Palu #Kita_Indonesia,4,Glen Fredly,1,GP Ansor,1,Gratifikasi,1,Greget,1,Guru PNS,1,GUSDURian,1,Gusma,1,Habib Riziq,1,Hari HAM,5,Hari Kartini,3,Hari Pahlawan,3,Hari Valentine,1,Hillary,1,Hillary Clinton,1,HIMAPEN JABODETABEK,1,Hindari Kriminalisasi,1,Hoax,1,Human Trafficking,2,ICRP,1,ICW,1,Ignatius Pati Ola,1,IKASANTRI,2,Impor Garam,1,Intan,1,Intelijen,1,Intergritas,1,Internasional,26,IrmanGusman,3,ISIS,1,Islamophobia,1,Israel,1,Istri Dimas kanjeng,1,Jaga Toleransi,1,Jajak Pendapat,1,Jakarta,23,Jembatan Waima,1,JEMI BERE,1,Jipik,1,Jokowi,2,Jokowi.,1,Jurnalistik,1,Kabar PMKRI Maumere,4,Kabar IMCS,2,Kabar Komda III PMKRI,2,Kabar PMKRI,12,Kabar PMKRI Ambon,4,kabar PMKRI Bengkulu,1,Kabar PMKRI Bogor,2,Kabar PMKRI Bogor.,1,kabar PMKRI Denpasar,1,Kabar PMKRI Jambi,1,Kabar PMKRI Makassar,5,Kabar PMKRI Malang,4,Kabar PMKRI Mataram,1,Kabar PMKRI Nasional,1,Kabar PMKRI Nias,2,Kabar PMKRI Palopo,1,Kabar PMKRI Pekanbaru,6,Kabar PMKRI Pematangsiantar,5,Kabar PMKRI Pontianak,1,Kabar PMKRI Ruteng,5,Kabar PMKRI Samarinda,7,Kabar PMKRI Sintang,1,Kabar PMKRI Surabaya,1,Kabar PMKRI Yogyakarta,2,Kalimantan Selatan,2,Kampanye,2,Kapolda,1,Kapolda Metro Jaya,1,Kapolri,2,Kasidi,1,Katolik,1,Keberagaman,1,Keberagaman #KitaIndonesia,2,Kebhinekaan,2,Kejari,1,Kekerasan Militer,1,Kekerasan Seksual,1,Kembalikan,1,Kemendes PDTT,1,Khawatir MUI Ditunggangi,1,Kita Indonesia,16,KOMDA SUMBAGUT,1,Komnas HAM,2,Komnas Perempuan,1,Komputer,1,KontraS,1,Kornelis Kedamen,1,Korupsi,2,KP PMKRI Pematangsiantar,1,KPK,4,Kristianitas,1,KWI,1,Lamahala,1,Launcing buku,1,Lembaga Kajian PP PMKRI,1,LIPI,1,Literasi Digital,1,Logo PMKRI,1,LOKNAS TO PMKRI,2,Lulung,1,Mabim PMKRI Pontianak,1,Mahasiswa Papua,2,Mahmudi,1,Majelis Adat Dayak,1,Makasar,1,Malang,1,MANGGARAI,1,Mario Fernandez,1,Mario Yosryandi Sara,2,Mars Wera,1,Maruarar Sirait,1,Marz Wera,1,Masa Bimbingan,2,Mata Rakyat,1,MEA,1,Megawati,1,Melchias Marcus Mekeng,1,Melchias Mekeng,1,Menag,1,Menhan,1,Menlu Tongkok,1,Michell Rompis,1,Milenial,1,Militan,2,Militer,1,MPAB,3,MPAB PMKRI Ruteng,1,MPAB/MABIM,2,Muchdi,1,Munir,1,Mutilasi,1,Myanmar,1,Nagekeo,1,Narkoba,1,Nasional,83,Natal 2018,1,Natal Bersama Kota Bogor.,1,Natalius Pigai,1,Nawacita Jokowi,2,Nawacita Jokowi Gagal,1,New York,3,Ngada,1,NKRI,1,NTT,3,NU,1,Obama,1,Okto Nahak,1,OMK,1,Opini,70,Orang Muda,1,Ormas,1,Ovin Gili,1,Papua,2,Parade Bhineka Tunggal Ika,1,Pariwisata,1,Parno S. Mahulae,1,Partai Komunis,1,Patung Buddha,1,Paulus Gemma Galgani,1,Paus,2,Paus Fransiskus,1,PDIP,1,Peduli Kemanuisan.,1,Pelantikan DPC,2,Pembangunan,1,Pemboman,2,Pemkot Malang,1,Penangguhan,1,Pendidikan Politik,1,Penembakan Anggota PMKRI,1,Penyair Indonesia,1,Perbedaan,1,Perbup,1,Perempuan,1,Pesan Prabowo,1,PHPT PP PMKRI,1,Pilkada,2,Pilkada Damai,1,Pilkada Jakarta,2,Pilpres 2019,5,Pilpres2019,5,Pius Yolan,1,PKB,1,PLTP Mataloko,1,PMII,1,PMKRI,42,PMKRI Alor,1,PMKRI ATAMBUA,1,PMKRI Bandar Lampung,1,PMKRI Banjarmasin,1,PMKRI Bengkulu,1,PMKRI Ende,3,PMKRI Jajakan Kota Batam,1,PMKRI Jakarta Pusat,5,PMKRI Jayapura,1,PMKRI Juara,1,PMKRI Kendari,1,PMKRI Kupang,8,PMKRI Larantuka,1,PMKRI Makassar,3,PMKRI Malang,5,PMKRI Manado,1,PMKRI Maumere,7,PMKRI Padang,1,PMKRI Palembang,1,PMKRI Palu,1,PMKRI Peduli,6,PMKRI Pontianak,1,PMKRI Sungai Raya,1,PMKRI Surabaya,1,PMKRI Tondano,1,PMKRI Tual,1,PMRI Ende,1,PNS,1,Polemik UPR,1,Polisi,3,Politik,1,Politisasi SARA,1,POLTEK Kupang,1,PP GMKI,1,PP PMKRI,12,Press Release,5,Pribumi,1,Profil,1,Prostitusi Online,2,Puisi,16,Pungli,1,Putin,1,Radikalisme,1,Raja,1,RAKERNAS,1,RAKERNAS PMKRI,3,Ratna Sarumpaet,1,Refleksi Hari Kartini,2,Regional,35,Rendi,1,Rendy Stevano,2,Retret Nasional,1,Rikard Djegadut,1,Rinto Namang,2,Risma,1,Rizieq,2,Robertus Dagul,4,RUAC,1,Rudal,1,Rumah,1,Rusia,1,RUU PKS,1,Sadar dan Terlibat,1,Sajak Epik,1,Sakinem,1,Samarinda,3,Samarinda.,1,Sandiaga,1,Seribu Lilin,1,Setya Novanto,2,Siaran Pers,3,Sistem,1,Siti Zuhro,1,Somalia,1,SPI,1,Stop Kekerasan Terhadap Perempuan,1,Strategi,1,Sukmawati,1,Suriah,1,Swedia,1,Tahan Ahok,1,Tahun Baru 2019,1,Tanjung Balai,1,Tedy Ndarung,1,Teologi Maut,1,Tepo Seliro,1,Teresa,1,Terorisme,1,Thomas Tukan,2,Thomson Sabungan Silalahi,1,TNI,3,Tolak HTI,2,Tomson Silalahi,1,Transaksi,1,Trump,3,Tumor Ganas,1,Uang,1,UNDANA Kupang,1,Unipa Maumere,1,Universal,1,Uskup Kupang,1,Uskup Malang,1,Vebivorian,1,Verbivorian,8,Verbivorian. PMKRI Jakarta Pusat,2,Wali Kota,1,WaliKota,1,Wanita Berjilbab,1,Wartawan,1,Wikileaks,1,Wiranto,1,Xi Jimping,1,Yensiana,1,Yogen Sogen,5,
ltr
item
VERBIVORA.COM: Menalar Gerakan PMKRI di Era Post-Truth
Menalar Gerakan PMKRI di Era Post-Truth
Menjadi seorang aktivis PMKRI harus melatih dirinya dan terus mengasah keberanian serta ketahanan semangatnya laksana batu karang
https://1.bp.blogspot.com/-FXK4sTd9w4A/XR8293XKKII/AAAAAAAAB2k/dWVlbvFt_OMxQgnYd7UO_jyyCT5u91RpQCLcBGAs/s640/517ef503-7304-4037-b578-be5a568188b3.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-FXK4sTd9w4A/XR8293XKKII/AAAAAAAAB2k/dWVlbvFt_OMxQgnYd7UO_jyyCT5u91RpQCLcBGAs/s72-c/517ef503-7304-4037-b578-be5a568188b3.jpg
VERBIVORA.COM
http://www.verbivora.com/2019/07/menalar-gerakan-pmkri-di-era-post-truth.html
http://www.verbivora.com/
http://www.verbivora.com/
http://www.verbivora.com/2019/07/menalar-gerakan-pmkri-di-era-post-truth.html
true
1552102979589694575
UTF-8
Semua postingan Belum ada postingan LIHAT SEMUA Selengkapnya Balas Batal Balas Delete Oleh Home HALAMAN POSTINGAN Lihat Semua Rekomendasi LABEL ARSIP CARI SEMUA POSTINGAN Tidak ditemukan postingan yang Anda cari Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Mgu Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu lalu Follower Follow KONTEN PREMIUM Bagikan untuk buka kunci Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy