Menuju Pilpres yang Damai Berlandaskan Nilai Kebangsaan

BAGIKAN:

Ket. Epenk Djawang. (Foto. Dok. Pribadi)


Oleh: Epenk Djawang*

Manusia sebagai makhluk politik tidak bisa berdiri sendiri dalam kehidupannya dengan masyarakat dan organisasi sosial, sehingga dalam realitas kehidupannya, manusia memiliki kecenderungan untuk berelasi dengan orang lain.  Setiap manusia dibekali oleh akal untuk dapat mempertahankan hidupnya dan mencapai cita - cita yang diinginkan dengan merencanakan dan menyusun strategi dalam bertindak untuk merealisasikan keinginannya tersebut.

Makna politik sebenarnya adalah kebebasan. Bebas dari pengendalian mekanisme alamiah, bebas dari dominasi hirarkis, lalu masuk ke dalam ruang publik sebagai orang yang autentik. Jadi, berpolitik adalah tindakan politis yang dilakukan dalam ruang publik.

Pengertian politik secara umum adalah sebuah tahapan untuk membentuk atau membangun posisi-posisi kekuasaan didalam masyarakat yang berguna sebagai pengambil keputusan-keputusan yang terkait dengan kondisi masyarakat. Atau tindakan dari suatu kelompok individu mengenai suatu masalah dari masyarakat atau negara.

Melek Literasi Politik dan Komunikasi Etis di Pilpres 2019

Menjelang momentum Pilpres 2019, masyarakat Indonesia saat ini dihadapkan pada narasi dan isu-isu politik menuju kontestasi Pilpres 2019. Sayangnya, isu-isu yang berkembang saat ini lebih cenderung terhadap isu "SARA" dengan tujuan memecah belah suatu kelompok atau golongan tertentu. Isu SARA memiliki efek yang memadai untuk elektabilitas seseorang.

Politik berdasarkan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) menjadi salah satu hal yang paling diwaspadai menjelang tahun politik. Isu SARA perlu diantisipasi agar tidak mencederai polapikir masyarakat terhadap politik ataupun terhadap salah satu kandidat. Dalam Undang-Undang Pemilu, telah dijelaskan bahwa penghinaan terhadap etnis, agama, dan lainnya adalah sesuatu yang dilarang.

Oleh karena itu perlu adanya pemahaman terhadap politik identitas. Yang pertama,  kita harus mengetahui penyebab dari politik identitas itu sendiri. Penyebabnya ialah adanya kesenjangan ekonomi, buruknya kelembagaan politik, adanya polarisasi politik, dan rendahnya literasi (literasi Politik dan Komunikasi etis).

Tanpa literasi politik dan komunikasi etis, seseorang akan gagal membandingkan opini dan fakta. Antara pemberitaan dan penyebarluasan kabar bohong lewat konstruksi yang begitu massif seoleh sebuah fakta yang terjadi di Indonesia. Oleh karena itu seharusnya dibangun nalar kritis masyarakat sehingga dapat mempertimbangkan isu-isu yang berkembang dan membedakan antara yang benar dan berita bohong (hoax).

Dengan demikian masyarakat tidak akan mudah terpancing dengan adu domba yang bisa merusak persatuan dan kesatuan bangsa. Politisasi SARA dampaknya sangat besar karena akan mengakibatkan konflik horizontal. Isu SARA ini menjadi narasi besar karena dikapitalisasi oleh elite politik.

Sebagai negara majemuk dengan beragam suku, ras, agama dan golongan, Indonesia menjadi negara paling rawan terhadap konflik SARA. Perbedaan pandangan antar kelompok masyarakat di suatu wilayah (geopolitik) kerap menjadi pemicu pecahnya bentrok antar mereka. Namun, di tengah konflik itu ada saja orang yang memanfaatkan situasi sehingga menjadi konflik yang berkepanjangan. Salah satu contohnya adalah Konflik antar agama yang terjadi di Ambon.

Berkaca pada Konflik Ambon dan Pilkada DKI

Konflik berbau agama paling tragis meletup pada tahun 1999 silam. Konflik dan pertikaian yang melanda masyarakat Ambon-Lease sejak Januari 1999, telah berkembang menjadi aksi kekerasan brutal yang merenggut ribuan jiwa dan menghancurkan semua tatanan kehidupan bermasyarakat.
Konflik tersebut kemudian meluas dan menjadi kerusuhan hebat antara umat Islam dan Kristen yang berujung pada banyaknya orang yang meregang nyawa. Kedua kubu berbeda agama ini saling serang dan bakar membakar bangunan serta sarana ibadah.

Saat itu, ABRI dianggap gagal menangani konflik dan merebak isu bahwa situasi itu sengaja dibiarkan berlanjut untuk mengalihkan isu-isu besar lainnya. Kerusuhan yang merusak tatanan kerukunan antar umat beragama di Ambon itu berlangsung cukup lama sehingga menjadi isu sensitif hingga saat ini.

Berdasarkan contoh diatas, maka untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan akibat dari pecah belah atau politik devide et impera yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu, maka Masyarakat harus lebih selektif dalam menerima informasi dari berbagai media sosial. Jangan mudah terprovokasi oleh isu-isu yang viral di media sosial. Di sisi lain masyarakat juga harus melakukan fungsi controling terhadap isu - isu yang berkembang sehingga ketika ada isu yang mengandung SARA ataupun Hoax yang mengundang konflik maka harus segera dilaporkan kepada pihak yang berwajib.

Baik isu SARA ataupun penyebar luasan berita palsu telah termuat dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis. (UU Anti SARA)  Juga Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. (UU anti Hoax)
Ketika isu-isu SARA semakin menguat dan politik identitas menguat, maka akan ada yang merasa terintimidasi. Ada yang kebebasan pendapatnya menjadi terhalang, menjadi takut ketika mengemukakan pendapat. isu SARA dan politik identitas pasti sengaja dibuat secara politik dan itu meniscayakan bahwa kelompok yang satu lebih baik dan paling hebat sedangkan yang lain subordinat.

Tentu menjelang Pilpres 2019 ini pasti ada saja oknum yang sengaja memainkan politik SARA untuk mencari dukungan dari sejumlah pihak serta memanfaatkan situasi yang ada sebagai upaya mendapatkan kekuasaan.Oknum tersebut tak lain dan tak bukan adalah bagian dari politisi. Ia mengarahkan kepada rakyat supaya membenci kepada penganut agama atau suku tertentu.

Kita bisa melihat hal - hal yang sudah terjadi sebelumnya yaitu pada saat Pilkada DKI. Sekitar 71% warga Jakarta mengaku khawatir dengan semakin menguatnya isu SARA selama Pilkada DKI Jakarta, seperti terungkap dalam sebuah survei.

Berdasarkan Survei yang dilakukan Populi Center setelah Pilkada DKI Jakarta putaran pertama, menunjukkan isu SARA yang digunakan dalam Pilkada Jakarta antara lain munculnya himbauan untuk tidak memilih calon Muslim dan masalah tidak mensalatkan jenazah. Selain memisahkan masyarakat, isu SARA menurut Direktur Populi Center, juga membuat masyarakat terintimidasi. Dalam kampanye pada saat itu, tidak ada pendidikan politik. Namun yang ada adalah pembusukan dalam marwah demokrasi kita sehingga masyarakat semakin intoleran terhadap salah satu kandidat.



Dampak dari politisasi SARA yaitu hubungan antar masyarakat akan rusak. Timbulnya sikap kecurigaan dan ketidakpercayaan dalam realitas sosialnya. Politik berbau SARA membuat proses Pilkada berjalan tidak baik dan penuh kecurigaan yang merusak kedewasaan demokrasi bangsa kita.

Meningkatkan Kewaspadaan Terhadap Politisasi Isu SARA

Selain meningkatkan kewaspadaan akan berkembangnya isu SARA menjelang momentum Pilpres 2019 ini, suatu hal yang juga harus dihindari adalah politik uang (money politic).  Politik uang dan juga politisasi SARA akan berdampak negatif terhadap masyarakat. Sebab, politik uang akan menciptakan potensi tindak pidana korupsi dalam penyelenggaran pemerintahaan. Sedangkan politisasi SARA akan menciptakan garis demarkasi antar hubungan sosial masyarakat  Indonesia yang majemuk. Berkaca dari konflik sosial berbasis SARA yang terjadi di tanah air ini, saatnya sesama anak bangsa mengembalikan keniscayaan bangsa kita yang majemuk, karena hal inilah merupakan kekuatan dan kekayaan bangsa kita yang tidak ternilai harganya.

Politik uang dan politisasi isu suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) jangan sampai menodai Pilpres tahun ini. Pilpres harus kita kawal agar terbebas dari isu SARA dan politik uang agar berjalan dengan demokratis, jujur, dan adil. Dengan demikian akan menghasilkan pemimpin yang berkualitas.
Indonesia adalah negara yang memiliki Ideologi Pancasila dengan berlandaskan pada aspek religius dan sosial. 

Inti dari Pancasila adalah budaya gotongroyong. Untuk membangun negara kita yang tercinta ini, kita tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah.  Oleh karena itu harus ada keseimbangan antara rakyat dan perintah sehingga terciptanya harmonisasi antar seluruh elemen.

Masyarakat Indonesia harus tetap menjunjung tinggi Bhineka Tunggal Ika dan persatuan meskipun akhir-akhir ini ideologi transnasional merasuk dalam sendi-sendi kebangsaan kita. Oleh karena itu mari kita menjaga persatuan antar seluruh elemen masyarakat dan menjauhi isu-isu SARA yang akan menimbulkan perpecahan antar golongan.

Mari Memilih pemimpin yang Demokratis, humanis, egaliter, dan sosialis sehingga cita-cita para Founding Fathers kita dapat tercapai dan regenerasi kita berikutnya dapat merasakan poin ke-5 dari Pancasila yakni Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Salam #Kita_Indonesia


*Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Bung Karno dan Presidium Pengembangan Organisasi PMKRI Jakarta Pusat periode 2018/2019.


KOMENTAR

Nama

#Kita_Indonesia,19,#Pilpres2019,4,#RUUPesantrendanPendidikanKeagamaan.,1,Aceh utara,1,Afganistan,1,afrika,1,Agama,1,Agus,1,Agustina Doren,3,Ahok,4,Aksi 2 Desember,1,Aksi Damai,1,Aktivis,2,Alboin Samosir,1,Alfred R. Januar Nabal,1,Amandemen,1,Amnesti,1,Anas,1,Anastasia Rosalinda,1,Anastasia Rosalinda B,1,ANBTI,1,Andre Pareira,1,Angelo Wake Kako,1,Anies,1,Anies-Sandi,1,Anis Baswedan,1,Apel Kebangsaan,1,Artikel,16,AS,3,B ERITA PMKRI,1,BADJA NTT,1,Bandung,1,Banjarmasin,1,Bara Pattyradja,2,Bayi,1,Beijing,1,Beijng,1,Berita,2,berita PMKRI,2,Berita PMKRI Kupang,2,Berita PMKRI Pusat,16,Berita PMKRI Ruteng,2,Berita PMKRI Samarinda,2,Bhumibol,1,Bogor,2,Bogor Tolak Khilafah,1,Bone,1,BPK,1,BPKP,1,Buaya,1,BUMN,1,Bunda,1,Buni yani,1,Bupati Lembata,1,BUPATI NAGEKEO,1,Cagub,1,Cegah Radikalisme,3,Cerpen,3,CHINA,1,Chrisantus Nana,1,cina,1,Cipayung Plus,1,covid-19,3,Daerah,35,Demo Susulan,1,Demokrasi,7,Den Haag,1,Denpasar,1,Densus Tipikor,1,Desa Bantala,1,Desak,1,Dhani,1,Dialog,1,Dibekap,1,Dibenturkan,1,Diciduk,1,Diplomasi,1,Dipolisikan,1,Dirjen Bimas Katolik,1,Disintegrasi Bangsa,1,Ditangkap,4,Ditendang,1,Diteror,1,Djarot,1,DONASI BUKU,1,DPD,4,DPD-RI,1,DPR RI,1,DPRD NTT,1,Dukun,1,Duta Genre,1,Efraim Mbomba Reda,1,Ekologi,1,Eksekusi,1,Epenk Djawang,2,Era 4.0,1,Erens Holivil,1,ESDM,1,Fahri,1,Febby Siharina,1,Filipina,1,Flores Timur,2,Florianus Herminus Mau,1,Fokus,9,Freeport,2,Gabriel Toang,1,Gadungan,1,GAME ONLINE,2,Geert Wilder,1,Gempa Lombok,6,Gempa NTB,3,Gempa Palu,3,Gempa Palu #Kita_Indonesia,4,Glen Fredly,1,GMKI,5,GMKI Makassar,1,GMNI Makassar,1,GMNI Sumut,4,GP Ansor,1,Gratifikasi,1,Greget,1,GUSDURian,1,Gusma,1,Habib Riziq,1,Habibie,1,Hacker WhatsApp,1,HAITI,1,Hari HAM,5,Hari Kartini,3,Hari Pahlawan,3,hari sumpah pemuda,1,Hari Valentine,1,Hillary,1,Hillary Clinton,1,HIMAPEN JABODETABEK,1,Hindari Kriminalisasi,1,Hoax,1,Human Trafficking,2,ICRP,1,ICW,1,Ignatius Pati Ola,1,IKASANTRI,2,Impor Garam,1,india,1,inggris,1,Intan,1,Intelijen,1,Internasional,50,Irak,4,IrmanGusman,3,ISIS,1,Islamophobia,1,Israel,1,Istri Dimas kanjeng,1,Jaga Toleransi,1,Jajak Pendapat,1,Jakarta,23,Jembatan Waima,1,JEMI BERE,1,Jipik,1,Jokowi,5,Jokowi.,1,Jurnalistik,1,Kabar PMKRI Maumere,4,Kabar IMCS,1,Kabar PMKRI,11,Kabar PMKRI Ambon,3,Kabar PMKRI Bogor,1,Kabar PMKRI Bogor.,1,kabar PMKRI Denpasar,1,Kabar PMKRI Jambi,1,Kabar PMKRI Makassar,5,Kabar PMKRI Malang,2,Kabar PMKRI Mataram,1,Kabar PMKRI Nasional,1,Kabar PMKRI Nias,2,Kabar PMKRI Palopo,1,Kabar PMKRI Pekanbaru,5,Kabar PMKRI Pematangsiantar,4,Kabar PMKRI Pontianak,1,Kabar PMKRI Ruteng,5,Kabar PMKRI Samarinda,4,Kabar PMKRI Sintang,2,Kabar PMKRI Yogyakarta,2,Kabinet Indonesia Maju,1,Kabupaten Malaka,1,Kabupaten NAGEKEO,1,Kalbar,1,Kalimantan Selatan,2,Kampanye,2,Kapolda,1,Kapolda Metro Jaya,1,Kapolri,3,Kasidi,1,katedral makasar,3,Katolik,1,Keberagaman #KitaIndonesia,1,Kebhinekaan,2,KEJAGUNG,1,Kejari,1,kejati bengkulu,1,Kekerasan Militer,1,Kekerasan Seksual,1,Kembalikan,1,Kemenag,1,Kemendes PDTT,1,Kemenkumham,2,Kesehatan,2,Khawatir MUI Ditunggangi,1,Kita Indonesia,16,KOMDA PAPUA,1,komda sumbagsel,1,komda timor,1,Kominfo,18,Komnas HAM,2,Komnas Perempuan,1,kompas media,1,Komputer,1,koneksi internet,1,KontraS,2,Korupsi,2,Korupsi Perum Perindo,1,KPK,4,KPU,1,KWI,1,Labuan bajo,1,LAMPUNG,2,Larantuka,1,Lembaga Kajian PP PMKRI,1,Lembaga Negara,1,Lidya Sartono,1,LIPI,1,LITERASI,1,LKK,1,Logo PMKRI,1,Lulung,1,Mabim PMKRI Pontianak,1,Mahasiswa Papua,2,Mahmudi,1,Majelis Adat Dayak,1,Makasar,2,Makassar,1,Malang,1,MANGGARAI,2,Mario Fernandez,1,Mario Yosryandi Sara,2,Mars Wera,1,Maruarar Sirait,1,Marz Wera,1,Mata Rakyat,1,MEA,1,Megawati,1,meksiko,1,Menag,1,Menhan,1,Menkominfo,8,Menlu Tongkok,1,Michell Rompis,1,Militan,1,Militer,1,MIMIKA,1,MPAB,4,MPAB PMKRI Ruteng,1,MPAB/MABIM,1,Muchdi,1,Munir,1,Mutilasi,1,Myanmar,8,Nagekeo,1,Narkoba,1,Nasional,256,Natal 2018,1,Natal Bersama Kota Bogor.,1,Natalius Pigai,1,Nawacita Jokowi,2,Nawacita Jokowi Gagal,1,New York,3,Ngada,1,NKRI,1,NTT,2,NU,1,Obama,1,Okto Nahak,1,OMK,1,Opini,109,Orang Muda,1,Ormas,1,Otsus,2,Ovin Gili,1,Padang,1,Papua,6,Parade Bhineka Tunggal Ika,1,Pariwisata,1,Parno S. Mahulae,1,Partai Demokrat,2,Partai Komunis,1,Pasar Danga,1,Patung Buddha,1,Paulus Gemma Galgani,1,Paus,2,Paus Fransiskus,3,PB PMII,2,PBB,1,PDIP,1,Peduli Kemanuisan.,1,Pelayanan Publik,1,Pembangunan,1,Pemboman,2,Pemkot Malang,1,Pemkot Surabaya,1,pemprov jambi,1,Penangguhan,1,Pendidikan,2,Penembakan Anggota PMKRI,1,penistaan agama,1,Perbedaan,1,Perbup,1,Perempuan,1,Pesan Prabowo,1,PHPT PP PMKRI,1,Pilkada,4,Pilkada Damai,1,Pilkada Jakarta,2,Pilpres 2019,5,Pilpres2019,5,PK Makassar,1,PKB,1,PLTP Mataloko,1,PMII,1,PMKRI,127,PMKRI Alor,1,PMKRI Ambon,4,PMKRI ATAMBUA,1,PMKRI Bali,1,PMKRI Balikpapan,1,PMKRI Bandar Lampung,4,PMKRI Banjarmasin,1,PMKRI Batam,1,PMKRI Bengkulu,12,PMKRI Bogor,1,PMKRI Cabang Ngada,1,PMKRI Calon Cabang Sambas,1,PMKRI Denpasar,3,PMKRI Ende,3,PMKRI Flores,1,PMKRI Gorontalo,1,PMKRI Jajakan Gowa,2,PMKRI Jakarta Pusat,17,PMKRI Jakarta Timur,1,PMKRI Jakarta Utara,1,PMKRI Jambi,6,PMKRI Jayapura,1,PMKRI Jogja,1,PMKRI Juara,1,PMKRI Kalimantan Tengah,2,PMKRI Kapuas Hulu,1,PMKRI Kefa,2,PMKRI Kendari,3,PMKRI Kupang,13,PMKRI Lampung,3,PMKRI Langgur,5,PMKRI Larantuka,1,PMKRI Madiun,1,PMKRI Makassar,23,pmkri malaka,4,PMKRI Malang,7,PMKRI Manado,4,PMKRI Mataram,1,PMKRI Maumere,20,PMKRI Medan,5,PMKRI Nias,1,PMKRI Padang,1,Pmkri palangka Raya,6,Pmkri palangkaraya,3,PMKRI Palembang,7,PMKRI Palopo,8,PMKRI Palu,1,PMKRI Papua,2,PMKRI Peduli,6,PMKRI Pekanbaru,2,PMKRI Pematangsiantar,4,PMKRI Pontianak,1,PMKRI Regio Timor,1,PMKRI Samarinda,8,PMKRI Sambas,1,PMKRI Saumlaki,1,PMKRI Siantar,6,PMKRI Sibolga,1,PMKRI Sintang,1,PMKRI Sorong,1,PMKRI Sumatera,1,PMKRI Sungai Raya,2,PMKRI Surabaya,4,PMKRI Surakarta,2,PMKRI Timika,1,PMKRI Timor,2,PMKRI Tomohon,2,PMKRI Tondano,4,PMKRI Toraja,8,PMKRI Tual,1,PMKRI Yogyakarta,1,PMRI Ende,1,PNS,1,Polemik UPR,1,Polisi,3,Politik,11,Politisasi SARA,1,POLRES Sikka,1,POLRI,1,POLTEK Kupang,1,PP GMKI,1,PP PMKRI,32,PPKM,1,Presiden,1,Press Release,5,Pribumi,1,Profil,4,Prolegnas,1,Prostitusi Online,2,Puisi,15,Pungli,1,Putin,1,Radikalisme,1,Raja,1,RAKERNAS,1,RAKERNAS PMKRI,3,Ratna Sarumpaet,1,Refleksi Hari Kartini,2,Regional,232,Regional. PMKRI Sumatera,1,Rendi,1,Rendy Stevano,2,Restu Hapsari,1,Rikard Djegadut,1,Rinto Namang,1,Risma,1,Rizieq,2,Robertus Dagul,4,Rudal,1,Rumah,1,Rusia,1,RUU PKS,1,Sakinem,1,salman khan,1,Samarinda,3,Samarinda.,1,Sandiaga,1,satelit 6G,1,SENAT Mahasiswa,1,Seribu Lilin,1,Setya Novanto,2,Siaran Pers,3,SIKKA,2,Sistem,1,Siti Zuhro,1,Somalia,1,SPI,1,STKIP Betun,1,Stop Kekerasan Terhadap Perempuan,1,Strategi,1,Sukmawati,1,sulawesi barat,1,Sulawesi Selatan,2,sulsel,1,Suriah,1,Survei,1,Swedia,1,Tahan Ahok,1,Tahun Baru 2019,1,Taliban,1,Tanjung Balai,1,Tedy Ndarung,1,telegram kapolri,1,Teologi Maut,1,Tepo Seliro,1,Teresa,1,Terorisme,3,Thomas Tukan,2,Thomson Sabungan Silalahi,1,TKW,1,TNI,3,Tolak HTI,2,Tomson Silalahi,1,Tondano,1,toraja,1,Transaksi,1,Trump,3,Tumor Ganas,1,Uang,1,UNDANA Kupang,1,Unipa Maumere,2,Uskup Kupang,1,Ustad Yahya Waloni,1,UU ITE,1,Vaksin,3,Vatikan,6,Vebivorian,1,Verbivorian,8,Verbivorian. PMKRI Jakarta Pusat,2,Wali Kota,1,WaliKota,1,Wanita Berjilbab,1,Wartawan,1,Wartawan TEMPO,1,WhatsApp,1,WHO,1,Wikileaks,1,Wiranto,1,Wuhan,1,Xi Jimping,1,Yensiana,1,Yogen Sogen,4,
ltr
item
Verbivora.com: Menuju Pilpres yang Damai Berlandaskan Nilai Kebangsaan
Menuju Pilpres yang Damai Berlandaskan Nilai Kebangsaan
Masyarakat Indonesia harus tetap menjunjung tinggi Bhineka Tunggal Ika dan persatuan meskipun akhir-akhir ini ideologi transnasional merasuk dalam sendi-sendi kebangsaan kita. Oleh karena itu mari kita menjaga persatuan antar seluruh elemen masyarakat dan menjauhi isu-isu SARA yang akan menimbulkan pecahbelah antar golongan.
https://3.bp.blogspot.com/-hsrTqqktzes/W89S6dRXwTI/AAAAAAAABOc/pC8x3598Ahgy6onxl1wjApEyJebwqJc4QCLcBGAs/s640/p.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-hsrTqqktzes/W89S6dRXwTI/AAAAAAAABOc/pC8x3598Ahgy6onxl1wjApEyJebwqJc4QCLcBGAs/s72-c/p.jpg
Verbivora.com
https://www.verbivora.com/2018/10/menuju-pilpres-yang-damai-berlandaskan.html
https://www.verbivora.com/
https://www.verbivora.com/
https://www.verbivora.com/2018/10/menuju-pilpres-yang-damai-berlandaskan.html
true
1552102979589694575
UTF-8
Semua postingan Belum ada postingan LIHAT SEMUA Selengkapnya Balas Batal Balas Delete Oleh Home HALAMAN POSTINGAN Lihat Semua Rekomendasi LABEL ARSIP SEARCH SEMUA POSTINGAN Tidak ditemukan postingan yang Anda cari Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Mgu Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu lalu Follower Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy