‘Nyala’ Papua & Masa Bodoh Negara

BAGIKAN:

Ilustrasi masa bodoh Negara terhadap Papua

Tidak dapat dipungkiri bahwa yang ada dalam kepala publik hari ini adalah negara tidak memiliki komitmen negarawan, kepemimpinan moral dan intelektual dalam menyikapi gejolak oleh masyarakat Papua yang ada diberbagai penjuru di Indonesia. Yang konyol adalah sikap negara yang jika diperhatikan secara detail seperti organisasi keagamaan. Negara memberikan memberikan seruan – seruan yang sifatnya moral spiritual untuk meredam ‘Nyala Papua’.

Ketika ‘Nyala Papua’ membesar, mereka membakar gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) di Manokwari. Atas persoalan yang sangat krusial tersebut, seruan Presiden Jokowi kepada masyarakat Papua adalah ‘emosi itu boleh.... tetapi memaafkan itu lebih baik’, tanpa memberikan elaborasi lebih lanjut yang menunjukan komitmen dari Presiden untuk menyelesaikan masalah penyerangan sekelompok ormas terhadap mahasiswa Papua di asarama yang terjadi di Surabaya dengan instrumen – instrumen yang dimiliki oleh negara, sebagai seorang kepala negara.

Saat ini persoalan semakin pelik, kantor Majelis Rakyat Papua (MRP) yang berlokasi di Kotaraja, Distrik Abepura, kembali dibakar oleh masyarakat Papua. Sorot mata dunia internasional semakin tajam menatap Indonesia, Presiden dan menteri – menterinya mulai kasak – kusuk menunjukan keseriusan pada polemik Papua.

Dalam keseriusan yang coba ditampilkan oleh negara kepada publik semuanya masih sebatas pada penyelesaian jangka pendek yakni dengan meminta Kepolisian Republik Indonesia untuk mengusut tuntas masalah ini dan setelah itu semuanya harus berdamai. Soal perdamaian, Gus Dur pernah mengatakan bahwa perdamaian tanpa keadilan adalah ilusi. 

Jika kita jujur, sampai sejauh ini, kita tidak menemukan rumusan penyelesaian masalah secara konseptual, substantif dan stategis. Negara pun naif bahwa ‘Nyala Papua’ hari ini disebabkan oleh akumulasi persoalan yang selama ini dipendam oleh masyarakat Papua jauh dalam lubuk hatinya.

Mengutip Tirto.id, sejak 2009, dari riset selama 4 tahun, LIPI memetakan 4 masalah akut di Papua yang (seharusnya) diselesaikan pemerintah Indonesia. Pertama, sejarah dan status politik integrasi Papua ke Indonesia. Kedua, kekerasan dan pelanggaran HAM sejak 1965 yang nyaris nol keadilan. Ketiga, diskriminasi dan marjinalisasi orang Papua di tanah sendiri. Keempat, kegagalan pembangunan meliputi pendidikan, kesehatan dan ekonomi rakyat. Sampai saat ini, 4 akar masalah di Papua itu masih relevan dengan situasi terkini.

Masih relevannya 4 akar masalah dari riset yang dilakukan oleh LIPI dari tahun 2009 tersebut menunjukan bahwa negara selama ini memang bersikap masa bodoh terhadap persoalan di tanah Papua. Di era pemerintahan Jokowi – JK, negara cukup menunjukan keseriusan dan komitmennya dengan melakukan pembangunan infrastruktur di negeri matahari terbit tersebut, yang menjadi soal adalah pembangunan infrastruktur bukan merupakan yang dibutuhkan oleh Papua saat ini.

Papua butuh kejelasan sejarahnya, butuh penyelesaian masalah HAM, butuh penerimaan dari seluruh elemen bangsa bahwa mereka adalah bagian dari Indonesia yang bentuk fisiknya terlampau berbeda dari yang lainnya, Papua butuh keadilan pembangunan dari sektor pendidikan, kesehatan dan ekonomi rakyat. Papua butuh cinta dari bangsa ini !

Selain itu, yang menjadi soal adalah negara selalu melihat dari kaca mata politik pada semua gerakan yang dilakukan oleh masyarakat Papua. Gerakan yang dilakukan oleh masyarakat Papua kerap dipandang sebagai gerakan separatis, usaha untuk memisahkan diri dari NKRI karena masyarakat Papua ‘dipengaruhi’ asing.

Negara asbsen untuk melihat setiap gerakan yang dilakukan oleh masyarakat Papua sebagai sebuah bentuk perlawanan yang dimotivasi oleh ketidakadilan terhadap Papua dalam banyak sektor. Negara selalu lepas dari substansi masalah, bersemangat serta ‘genit’ untuk memandangnya dari kaca mata politik. 

Peristiwa penyerangan sekelompok ormas terhadap sekelompok mahasiswa di asrama Papua di Surabaya yang membuat ‘Nyala Papua’ membesar di seluruh penjuru negeri hendaknya menjadi titik refleksi besar bagi bangsa Indonesia tentang bagaimana masyarakat Papua dipandang dan diperlakukan selama ini.

Jika indikasi masalahnya adalah karena dugaan pembuangan bendera merah putih oleh sekelompok mahasiswa Papua di Surabaya maka ‘Nyala Papua’ tidak sebesar yang kita saksikan dan rasakan bersama saat ini, saya meyakini ini semua karena akumulasi persoalan yang selama ini ditabung oleh masyarakat Papua karena tidak ada penyelesaian dari negara.

Untuk menyelesaikan ‘Nyala Papua’ saat ini negara harus membuang jauh – jauh sikap masa bodohnya, tidak ada jalan lain selain harus ditempuh dengan jalan dialog dari hati ke hati. Negara mesti membangun dialog dengan masyarakat Papua, semua yang ditanyakan, diminta, maupun diinginkan oleh Papua harus didengarkan oleh negara dalam semangat keutuhan NKRI.

Kemudian negara membangun komitmen dengan Papua dalam bentuk kebijakan – kebijakan strategis untuk semua kebutuhan Papua saat ini maupun keinginan mereka untuk memperjelas sejarah politik, dll.

Jika kemudian dialog menemui jalan buntu, masyarakat Papua menuntut referendum, ingin memisahkan diri dari NKRI, maka harus diterima oleh negara dan segenap bangsa dengan besar hati. Maka peristiwa pisahnya Papua dari NKRI menjadi catatan bagi negara dan bangsa bahwa jika ingin NKRI tetap utuh maka tidak boleh ada diskriminasi, penindasan struktural dan ketidakadilan terhadap apapun suku, agama dan ras di NKRI.

Semuanya harus saling menghargai satu dengan yang lainnya karena memiliki hak yang sama di tubuh bangsa ini. Negara tidak boleh menindas dan yang mayoritas tidak boleh merasa superior. Mari berjuang bersama buat Papua !

Penulis :  Efraim Mbomba Reda
(Aktivis PMKRI Cab. Denpasar ; Mahasiswa Universitas Warmadewa – Denpasar)

KOMENTAR

Nama

#Kita_Indonesia,19,#Pilpres2019,4,#RUUPesantrendanPendidikanKeagamaan.,1,Aceh utara,1,afrika,1,Agama,1,Agus,1,Agustina Doren,3,Ahok,4,Aksi 2 Desember,1,Aksi Damai,1,Aktivis,2,Alboin Samosir,1,Alfred R. Januar Nabal,1,Amandemen,1,Amnesti,1,Anas,1,Anastasia Rosalinda,1,Anastasia Rosalinda B,1,ANBTI,1,Andre Pareira,1,Angelo Wake Kako,1,Anies,1,Anies-Sandi,1,Anis Baswedan,1,Apel Kebangsaan,1,Artikel,13,AS,3,B ERITA PMKRI,1,BADJA NTT,1,Bandung,1,Banjarmasin,1,Bara Pattyradja,2,Bayi,1,Beijing,1,Beijng,1,Berita,2,berita PMKRI,2,Berita PMKRI Kupang,2,Berita PMKRI Pusat,16,Berita PMKRI Ruteng,2,Berita PMKRI Samarinda,2,Bhumibol,1,Bogor,2,Bogor Tolak Khilafah,1,Bone,1,BPKP,1,Buaya,1,Bunda,1,Buni yani,1,Bupati Lembata,1,Cagub,1,Cegah Radikalisme,3,Cerpen,3,Chrisantus Nana,1,cina,1,Cipayung Plus,1,covid-19,2,Daerah,35,Demo Susulan,1,Demokrasi,7,Den Haag,1,Denpasar,1,Densus Tipikor,1,Desa Bantala,1,Desak,1,Dhani,1,Dialog,1,Dibekap,1,Dibenturkan,1,Diciduk,1,Diplomasi,1,Dipolisikan,1,Dirjen Bimas Katolik,1,Disintegrasi Bangsa,1,Ditangkap,4,Ditendang,1,Diteror,1,Djarot,1,DPD,4,DPD-RI,1,DPR RI,1,DPRD NTT,1,Dukun,1,Duta Genre,1,Efraim Mbomba Reda,1,Ekologi,1,Eksekusi,1,Epenk Djawang,2,Era 4.0,1,Erens Holivil,1,ESDM,1,Fahri,1,Febby Siharina,1,Filipina,1,Flores Timur,2,Florianus Herminus Mau,1,Fokus,9,Freeport,2,Gabriel Toang,1,Gadungan,1,Geert Wilder,1,Gempa Lombok,6,Gempa NTB,3,Gempa Palu,3,Gempa Palu #Kita_Indonesia,4,Glen Fredly,1,GMKI,2,GMKI Makassar,1,GMNI Makassar,1,GMNI Sumut,4,GP Ansor,1,Gratifikasi,1,Greget,1,GUSDURian,1,Gusma,1,Habib Riziq,1,Habibie,1,Hacker WhatsApp,1,HAITI,1,Hari HAM,5,Hari Kartini,3,Hari Pahlawan,3,Hari Valentine,1,Hillary,1,Hillary Clinton,1,HIMAPEN JABODETABEK,1,Hindari Kriminalisasi,1,Hoax,1,Human Trafficking,2,ICRP,1,ICW,1,Ignatius Pati Ola,1,IKASANTRI,2,Impor Garam,1,india,1,inggris,1,Intan,1,Intelijen,1,Internasional,50,Irak,4,IrmanGusman,3,ISIS,1,Islamophobia,1,Israel,1,Istri Dimas kanjeng,1,Jaga Toleransi,1,Jajak Pendapat,1,Jakarta,23,Jembatan Waima,1,JEMI BERE,1,Jipik,1,Jokowi,4,Jokowi.,1,Jurnalistik,1,Kabar PMKRI Maumere,4,Kabar IMCS,1,Kabar PMKRI,11,Kabar PMKRI Ambon,3,Kabar PMKRI Bogor,1,Kabar PMKRI Bogor.,1,kabar PMKRI Denpasar,1,Kabar PMKRI Jambi,1,Kabar PMKRI Makassar,5,Kabar PMKRI Malang,2,Kabar PMKRI Mataram,1,Kabar PMKRI Nasional,1,Kabar PMKRI Nias,2,Kabar PMKRI Palopo,1,Kabar PMKRI Pekanbaru,5,Kabar PMKRI Pematangsiantar,4,Kabar PMKRI Pontianak,1,Kabar PMKRI Ruteng,5,Kabar PMKRI Samarinda,4,Kabar PMKRI Sintang,2,Kabar PMKRI Yogyakarta,2,Kabinet Indonesia Maju,1,Kalbar,1,Kalimantan Selatan,2,Kampanye,2,Kapolda,1,Kapolda Metro Jaya,1,Kapolri,3,Kasidi,1,katedral makasar,3,Katolik,1,Keberagaman #KitaIndonesia,1,Kebhinekaan,2,Kejari,1,kejati bengkulu,1,Kekerasan Militer,1,Kekerasan Seksual,1,Kembalikan,1,Kemenag,1,Kemendes PDTT,1,Kemenkumham,2,Kesehatan,2,Khawatir MUI Ditunggangi,1,Kita Indonesia,16,Kominfo,18,Komnas HAM,2,Komnas Perempuan,1,kompas media,1,Komputer,1,koneksi internet,1,KontraS,2,Korupsi,2,KPK,4,KPU,1,KWI,1,LAMPUNG,2,Larantuka,1,Lembaga Kajian PP PMKRI,1,Lembaga Negara,1,Lidya Sartono,1,LIPI,1,LKK,1,Logo PMKRI,1,Lulung,1,Mabim PMKRI Pontianak,1,Mahasiswa Papua,2,Mahmudi,1,Majelis Adat Dayak,1,Makasar,2,Makassar,1,Malang,1,MANGGARAI,1,Mario Fernandez,1,Mario Yosryandi Sara,2,Mars Wera,1,Maruarar Sirait,1,Marz Wera,1,Mata Rakyat,1,MEA,1,Megawati,1,meksiko,1,Menag,1,Menhan,1,Menkominfo,8,Menlu Tongkok,1,Michell Rompis,1,Militan,1,Militer,1,MPAB,3,MPAB PMKRI Ruteng,1,MPAB/MABIM,1,Muchdi,1,Munir,1,Mutilasi,1,Myanmar,8,Nagekeo,1,Narkoba,1,Nasional,244,Natal 2018,1,Natal Bersama Kota Bogor.,1,Natalius Pigai,1,Nawacita Jokowi,2,Nawacita Jokowi Gagal,1,New York,3,Ngada,1,NKRI,1,NTT,2,NU,1,Obama,1,Okto Nahak,1,OMK,1,Opini,102,Orang Muda,1,Ormas,1,Otsus,2,Ovin Gili,1,Padang,1,Papua,5,Parade Bhineka Tunggal Ika,1,Pariwisata,1,Parno S. Mahulae,1,Partai Demokrat,2,Partai Komunis,1,Patung Buddha,1,Paulus Gemma Galgani,1,Paus,2,Paus Fransiskus,2,PBB,1,PDIP,1,Peduli Kemanuisan.,1,Pembangunan,1,Pemboman,2,Pemkot Malang,1,Pemkot Surabaya,1,Penangguhan,1,Pendidikan,2,Penembakan Anggota PMKRI,1,Perbedaan,1,Perbup,1,Perempuan,1,Pesan Prabowo,1,PHPT PP PMKRI,1,Pilkada,4,Pilkada Damai,1,Pilkada Jakarta,2,Pilpres 2019,5,Pilpres2019,5,PK Makassar,1,PKB,1,PLTP Mataloko,1,PMII,1,PMKRI,119,PMKRI Alor,1,PMKRI Ambon,3,PMKRI ATAMBUA,1,PMKRI Balikpapan,1,PMKRI Bandar Lampung,4,PMKRI Banjarmasin,1,PMKRI Batam,1,PMKRI Bengkulu,11,PMKRI Bogor,1,PMKRI Cabang Ngada,1,PMKRI Calon Cabang Sambas,1,PMKRI Denpasar,2,PMKRI Ende,3,PMKRI Flores,1,PMKRI Gorontalo,1,PMKRI Jajakan Gowa,2,PMKRI Jakarta Pusat,16,PMKRI Jakarta Timur,1,PMKRI Jakarta Utara,1,PMKRI Jambi,3,PMKRI Jayapura,1,PMKRI Jogja,1,PMKRI Juara,1,PMKRI Kalimantan Tengah,2,PMKRI Kapuas Hulu,1,PMKRI Kendari,3,PMKRI Kupang,12,PMKRI Lampung,1,PMKRI Langgur,3,PMKRI Larantuka,1,PMKRI Madiun,1,PMKRI Makassar,18,pmkri malaka,3,PMKRI Malang,6,PMKRI Manado,4,PMKRI Mataram,1,PMKRI Maumere,15,PMKRI Medan,4,PMKRI Nias,1,PMKRI Padang,1,Pmkri palangka Raya,3,Pmkri palangkaraya,2,PMKRI Palembang,6,PMKRI Palopo,5,PMKRI Palu,1,PMKRI Papua,2,PMKRI Peduli,6,PMKRI Pekanbaru,2,PMKRI Pematangsiantar,3,PMKRI Pontianak,1,PMKRI Samarinda,8,PMKRI Sambas,1,PMKRI Saumlaki,1,PMKRI Siantar,6,PMKRI Sibolga,1,PMKRI Sorong,1,PMKRI Sumatera,1,PMKRI Sungai Raya,2,PMKRI Surabaya,1,PMKRI Surakarta,2,PMKRI Timika,1,PMKRI Timor,1,PMKRI Tomohon,1,PMKRI Tondano,4,PMKRI Toraja,5,PMKRI Tual,1,PMKRI Yogyakarta,1,PMRI Ende,1,PNS,1,Polemik UPR,1,Polisi,3,Politik,11,Politisasi SARA,1,POLRI,1,POLTEK Kupang,1,PP GMKI,1,PP PMKRI,25,Presiden,1,Press Release,5,Pribumi,1,Profil,4,Prolegnas,1,Prostitusi Online,2,Puisi,15,Pungli,1,Putin,1,Radikalisme,1,Raja,1,RAKERNAS,1,RAKERNAS PMKRI,3,Ratna Sarumpaet,1,Refleksi Hari Kartini,2,Regional,196,Regional. PMKRI Sumatera,1,Rendi,1,Rendy Stevano,2,Restu Hapsari,1,Rikard Djegadut,1,Rinto Namang,1,Risma,1,Rizieq,2,Robertus Dagul,4,Rudal,1,Rumah,1,Rusia,1,RUU PKS,1,Sakinem,1,salman khan,1,Samarinda,3,Samarinda.,1,Sandiaga,1,satelit 6G,1,Seribu Lilin,1,Setya Novanto,2,Siaran Pers,3,SIKKA,2,Sistem,1,Siti Zuhro,1,Somalia,1,SPI,1,Stop Kekerasan Terhadap Perempuan,1,Strategi,1,Sukmawati,1,sulawesi barat,1,Sulawesi Selatan,2,Suriah,1,Survei,1,Swedia,1,Tahan Ahok,1,Tahun Baru 2019,1,Tanjung Balai,1,Tedy Ndarung,1,telegram kapolri,1,Teologi Maut,1,Tepo Seliro,1,Teresa,1,Terorisme,3,Thomas Tukan,2,Thomson Sabungan Silalahi,1,TKW,1,TNI,3,Tolak HTI,2,Tomson Silalahi,1,Tondano,1,toraja,1,Transaksi,1,Trump,3,Tumor Ganas,1,Uang,1,UNDANA Kupang,1,Unipa Maumere,2,Uskup Kupang,1,UU ITE,1,Vaksin,3,Vatikan,6,Vebivorian,1,Verbivorian,8,Verbivorian. PMKRI Jakarta Pusat,2,Wali Kota,1,WaliKota,1,Wanita Berjilbab,1,Wartawan,1,Wartawan TEMPO,1,WhatsApp,1,WHO,1,Wikileaks,1,Wiranto,1,Wuhan,1,Xi Jimping,1,Yensiana,1,Yogen Sogen,4,
ltr
item
Verbivora.com: ‘Nyala’ Papua & Masa Bodoh Negara
‘Nyala’ Papua & Masa Bodoh Negara
Untuk menyelesaikan ‘Nyala Papua’ saat ini negara harus membuang jauh – jauh sikap masa bodohnya, tidak ada jalan lain selain harus ditempuh dengan jalan dialog dari hati ke hati
https://1.bp.blogspot.com/-P1yQJlxydGM/XWy71opikxI/AAAAAAAAB-8/jjUATSMTSZQfOQ2K6fIcOBRG_K0mEbFJQCLcBGAs/s640/19905322_449749392075769_7480572381960867116_n.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-P1yQJlxydGM/XWy71opikxI/AAAAAAAAB-8/jjUATSMTSZQfOQ2K6fIcOBRG_K0mEbFJQCLcBGAs/s72-c/19905322_449749392075769_7480572381960867116_n.jpg
Verbivora.com
https://www.verbivora.com/2019/09/nyala-papua-masa-bodoh-negara.html
https://www.verbivora.com/
https://www.verbivora.com/
https://www.verbivora.com/2019/09/nyala-papua-masa-bodoh-negara.html
true
1552102979589694575
UTF-8
Semua postingan Belum ada postingan LIHAT SEMUA Selengkapnya Balas Batal Balas Delete Oleh Home HALAMAN POSTINGAN Lihat Semua Rekomendasi LABEL ARSIP SEARCH SEMUA POSTINGAN Tidak ditemukan postingan yang Anda cari Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Mgu Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu lalu Follower Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy