Gereja, Rakyat dan Kaum Intelektual Harus Bersatu Melawan Kejahatan Penguasa

BAGIKAN:

Jakarta, Verbivora.com - Belakangan ini Indonesia mengalami begitu banyak darurat kemanusiaan akibat dari kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat.

Keberadaan rakyat sebagai pemilik kedaulatan di iklim demokrasi tidak lagi menjadi prioritas yang harus dilindungi oleh negara. Padahal secara konstitusional pasal 1 ayat (2) UUD 1945 sudah jelas dan tegas, bahwa kedaulatan tertinggi ada di tangan rakyat bukan korporasi ataupun birokrasi negara.

Pada bagian lain, negara juga wajib melindungi hak asasi manusia tanpa terkecuali termasuk harkat dan martabat rakyat kecil. Hal itu yang menjadi dasar paling prinsipil dan fundamental di dalam praktek bernegara yang sehat dan beradab.

Seiring perjalannya, koridor konstitusional yang mewajibkan negara untuk melindungi dan memelihara orang miskin mengalami pemudaran yang signifikan. Pemerintah dengan kekuasaan dan kekuataanya menghalalkan dan melegalkan segala cara untuk memangsa rakyatnya yang lemah.

Padahal secara substansial pasca kemerdekaan, keberadaan negara semata-mata untuk mewujudkan  kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Negara sudah menyepakati untuk menghentikan sistem perbudakan, penyiksaan dan pemaksaan terhadap hak rakyat untuk hidup, ditandai dengan pembentukan konstitusi bernegara yang berbasiskan keadaban, keadilan dan kemanfaatan bagi rakyat.

Pengesahan dan pemberlakuan Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) nomor 5 tahun 1960 sebagai bentuk dekolonialisasi terhadap rakyat, yang sudah menghirup udara kemerdekaan dari tangan penjajah dengan maksud dan tujuan  untuk mencegah terjadinya konflik vertikal, antara rakyat dengan penguasa. Dengan kata lain menghentikan perampasan dan kejahatan terhadap tanah yang dimiliki oleh rakyat (petani).

Undang-undang tersebut sebagai manifestasi amanat konstitusi pasal 18 B ayat (2) UUD 1945 yang dengan jelas, menyatakan bahwa negara wajib mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat berserta haka-haki tradisionalnya, sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Mirisnya, tataran realitas dan kondisi yang terjadi pada kehidupan rakyat berbanding terbalik dengan apa yang menjadi cita-cita mulia yang sudah diamanatkan oleh para pendiri bangsa.Watak kolonial ternyata masih melekat dan terbawa hingga menjadi watak dasar penguasa hari ini. 

Kolonialisasi terhadap rakyat ada dimana-mana mulai dari intimidasi, pembungkaman suara kritis, perampasan lahan, hingga kejahatan terhadap rakyat menjadi proyek legal dan halal bagi penguasa. Rakyat lemah kehilangan ruang untuk membela diri, tanah dan komoditinya terpaksa harus dirampas oleh birokrat dan korporat dengan melegitimasi penggunaan aparat bersenjata untuk menakut-nakuti rakyat.

Penguasa diboncengi oleh kapitalis tambang, merampas tanah rakyat termasuk menyerahkan aparat bersenjata demi mengekspansi dan menginvestasikan modal mereka. Tanah dan nyawa rakyat banyak dikorbankan untuk kepentinggan kapitalis tambang.

Kemiskinan dan perbudakan tersistematisir dan didesain oleh negara untuk melanggengkan praktik-praktik penjajahan, layaknya seperti era kolonial dengan wajah yang baru. Negara tidak lagi berpikir tentang rakyat dan berbicara tentang nasib rakyat, mereka sudah dibius dan menjadi penjilat kapitalis tambang dengan mengatasnamakan kepentingan umum.

Rakyat yang lemah dan miskin kehilangan entitas perlawanan, sebab semuanya dikendalikan oleh penguasa dan pengusaha tambang mulai dari media, aparat hingga modal untuk membantai hak rakyat habis-habisan.

Beberapa hari terakhir, Indonesia sedang gencar-gencarnya pembangunan industri pertambangan. Dari berbagai industri tersebut ada dua kejadian yang menyita perhatian publik, yaitu konflik lahan di desa Wadas, Kecamatan Bener, Purwurejo, Jawah Tengah dan proyek geotermal di desa Wae Sano, Kecamatan Sanonggoang, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Dua kasus tersebut menuai perlawanan dari masyarakat dan kaum intelektual, sebagai respons atas ketidakhadiran negara untuk membela rakyat. Padahal tugas konstitusionalitas dari negara secara sadar memahami bahwa kedaulatan petani atas haknya tidak bisa dikurangi atau dirampas oleh siapapun, untuk kepentingan apapun.

Karena pada dasarnya kenyamanan dan ketenangan batin para petani dalam mewujudkan kesejahteraannya cukup dengan bertani atas lahannya, bukan berdiri di bawah kaki ataupun di bawah jepitan korporat industri pertambangan. 

Ini membuktikan absennya negara, karena pada dasarnya otak dan perut penguasa sudah dikendalikan oleh orang-orang berduit atau lebih dikenal dengan elit atau kelas borjuis dalam hal ini korporasi pertambangan.

Membesarnya ruang  borjuis/pemilik tambang untuk mengekploitasi manusia lain dan mengubah corak produksi dari masyarakat agraris menuju industrialis, adalah bentuk modern dari penghisapan dan penindasan oleh satu manusia terhadap manusia yang lain, yang diaktori oleh kelas atas (kapitalis) terhadap kelas bawah (proletar).

Dalam kondisi ini kapitalisme semakin menguat dan mendominasi .Sebagai akibatnya, yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Dengan watak dasarnya kapitalisme merampas tanah rakyat dan memperbudak rakyat dengan membangun industri/tambang di atas lahan hasil rampasannya.

Rakyat kehilangan tanah dan menjadi robot di bawah kendali pemilik industri. Disinilah sisi paling kejam dari kapitalisme. Ketergantungan dan kebebasan direnggut karena mereka kehilangan lahan produksi kecuali hidup merintih dalam kejinya eksploitasi kapitalisme.

Atas dasar progresifitas dan agresifitas watak kapitalis, kemiskinana dan kemelaratan rakyat semakin meluas dan membengkak. Keterbelahan kelas pemilik modal dan kelas pekerja menjadi alarm pembebasan rakyat dari kubangan kemiskinan, untuk mengharuskan Gereja, rakyat dan intelektual bersatu.

Sejarah telah mencatat dengan tinta darah bahwa Gereja/agama memiliki sisi revolusioner untuk meruntuhkan kapitalisme. Eksistensi Gereja bukan sekedar ladang berdoa dan bertobat melainkan sebagai sarang untuk melahirkan pemikir dan pemberontak guna meruntuhkan kejamnya watak kapitalis.

Selain itu rakyat dan segenap intelektual kritis harus bersatu-padu dengan Gereja untuk membuka diri, terkait keadaan sosial yang menindas rakyat. Proses penyadaran dan menggerakan rakyat dari kondisinya, agar berani berontak dari ketertindasannya, adalah tugas utama dari intelektual, oleh karena itu ia harus terintegrasi dengan Gereja dan rakyat untuk mewujudkan pembebasan rakyat.

Pada tahun 1960an di Amerika Latin, Gereja bersama umat dan intelektual berdiri dan bergerak dari jantung kemiskinan sosial kemudian bersama-sama rakyat, untuk merontokkan sebuah sistem yang korup, menindas dan kapitalistik.

Kebijakan negara tidak pernah berpihak pada rakyat, kemiskinanan dimana-mana, kelaparan merajalela dan penguasapun tetap berdiam diri. Hal inilah yang kemudian tercover dalam spirit pembebasan dan perlawanan di Amerika latin bahwa soliditas kaum intelektual, rakyat dan Gereja adalah sejarah yang memberikan warning ke seluruh dunia terkhusus Indonesia bahwa untuk menghancurkan sistem penindasan terhadap rakyat Gereja/agama, intelektual harus sejalan dengan penderitaan rakyat.

Karena pada prinsipnya penindasan lahir karena segelintir elit mendominasi ekonomi dan mengendalikan kekuasaan yang menyebabkan kelas semakin terbelah sehingga keadaan kelas bawah yang digenggam oleh kekuasaan otoriter dan kapitalistik harus menjadi energi penggerak dan pembebasan bagi intelektual,hirarki gereja dan rakyat.

Kapitalisme dan imperialisme di Indonesia yang mengakibatkan kemiskinan dan penderitaan rakyat yang berkepanjangan sudah seharusnya sebagai moment refleksi kritis intelektual, gereja dan rakyat. Sejarah dunia telah mengukir, bila intelektual dan Gereja berdiam diri artinya membiarkan penindasan dan penghisapan terhadap rakyat terus berlangsung.

Begitu banyak tanah petani yang dirampas untuk kepentingan industri pertambangan, nyawa sampai dikorbankan, kemiskinan semakin meluas dan negara bersikap otoriter terhadap rakyatnya sendiri. Begitu banyak penghisapan, pembantaiaan, penggusuran dan pemiskinan tapi didiamkan oleh Gereja dan intelektual.

Padahal sudah pernah terjadi dalam sejarah peradabaan bahwa Gereja dan rakyat memiliki energi revolusioner dan keberpihakan pada rakyat untuk merubah kondisi sosial.

Intelektual, Gereja dan rakyat harus masuk kewilayah ketertindasan rakyat, mendidik dan menyadarkan mereka untuk untuk merubah kondisi sosial yang menjerat mereka di dalam kubangan penderitaan dan kemiskinan.

Gereja harus mewujudkan cinta kasih yang konkret, intelektual mewujudkan kesadaran kolektif dan menggerakan rakyat untuk merombak sistem otoritarian dan kapitalistik. Dalam konteks kasus proyek geotermal di Nusa Tenggara Timur dan konflik lahan di Jawah Tengah, itu adalah satu kesatuan dari watak dan sikap dasar dari kapitalis yaitu penyuapan, korupsi, kekerasan dan penghisapan.

Situasi dan sistem kapitalisme harus dirontokan dengan kesadaran dan soliditas gerakan rakyat kelas bawah yang didominasi oleh kelas pemodal, dan itu akan bisa dihentikan dan dirontokan apabila unsur Gereja, intelektual dan rakyat berangkat dari rahim ketertindasan rakyat untuk mmenyelamatkan dan membebaskan rakyat dari penyakit kapitalisme.

Gereja dan intelektual harus berpikir dan bertindak revolusioner untuk merubah kondisi sosial sehingga keadilan dan kesejahteraan rakyat termanifestasi secara  menyeluruh. *(AR)

Balduinus Ventura, Ketua Presidium PMKRI Cabang Malang.

 

Gereja, Rakyat dan Kaum Intelektual Harus Bersatu Melawan Kejahatan Penguasa
Balduinus Ventura, Ketua Presidium PMKRI Cabang Malang.

KOMENTAR

Nama

#Kita_Indonesia,19,#Pilpres2019,4,#RUUPesantrendanPendidikanKeagamaan.,1,Aceh utara,1,Afganistan,1,afrika,1,Agama,1,Agus,1,Agustina Doren,3,Ahok,4,Aksi 2 Desember,1,Aksi Damai,1,Aktivis,2,Alboin Samosir,1,Alfred R. Januar Nabal,1,Amandemen,1,Amnesti,1,Anas,1,Anastasia Rosalinda,1,Anastasia Rosalinda B,1,ANBTI,1,Andre Pareira,1,Angelo Wake Kako,1,Anies,1,Anies-Sandi,1,Anis Baswedan,1,Apel Kebangsaan,1,Artikel,16,AS,3,B ERITA PMKRI,1,BADJA NTT,1,Bandung,1,Banjarmasin,1,Bara Pattyradja,2,Bayi,1,Beijing,1,Beijng,1,Berita,2,berita PMKRI,2,Berita PMKRI Kupang,2,Berita PMKRI Pusat,16,Berita PMKRI Ruteng,2,Berita PMKRI Samarinda,2,Bhumibol,1,Bogor,2,Bogor Tolak Khilafah,1,Bone,1,BPK,1,BPKP,1,Buaya,1,BUMN,1,Bunda,1,Buni yani,1,Bupati Dogiyai,2,Bupati Lembata,1,BUPATI NAGEKEO,1,Cagub,1,Cegah Radikalisme,3,Cerpen,4,CHINA,1,Chrisantus Nana,1,cina,1,Cipayung Plus,1,covid-19,3,Daerah,35,Demo Susulan,1,Demokrasi,7,Den Haag,1,Denpasar,1,Densus Tipikor,1,Desa Bantala,1,Desak,1,Dhani,1,Dialog,1,Dibekap,1,Dibenturkan,1,Diciduk,1,Diplomasi,1,Dipolisikan,1,Dirjen Bimas Katolik,1,Disintegrasi Bangsa,1,Ditangkap,4,Ditendang,1,Diteror,1,Djarot,1,DOGIYAI,2,DONASI BUKU,1,DPD,4,DPD-RI,1,DPR RI,1,DPRD Dogiyai,2,DPRD Kota Malang,1,DPRD NTT,1,Dukun,1,Duta Genre,1,Efraim Mbomba Reda,1,Ekologi,1,Eksekusi,1,Epenk Djawang,2,Era 4.0,1,Erens Holivil,1,ESDM,1,Fahri,1,Febby Siharina,1,Filipina,1,Flores Timur,2,Florianus Herminus Mau,1,Fokus,9,Freeport,2,Gabriel Toang,1,Gadungan,1,GAME ONLINE,2,Geert Wilder,1,Gempa Lombok,6,Gempa NTB,3,Gempa Palu,3,Gempa Palu #Kita_Indonesia,4,Glen Fredly,1,GMKI,5,GMKI Makassar,1,GMNI Makassar,1,GMNI Sumut,4,GP Ansor,1,Gratifikasi,1,Greget,1,Gubernur NTT,1,GUSDURian,1,Gusma,1,Habib Riziq,1,Habibie,1,Hacker WhatsApp,1,HAITI,1,Hari HAM,5,Hari Kartini,3,Hari Pahlawan,3,hari sumpah pemuda,3,Hari Valentine,1,Hillary,1,Hillary Clinton,1,HIMAPEN JABODETABEK,1,Hindari Kriminalisasi,1,Hoax,1,Human Trafficking,2,ICRP,1,ICW,1,Ignatius Pati Ola,1,IKASANTRI,2,Impor Garam,1,india,1,inggris,1,Intan,1,Intelijen,1,Internasional,51,Irak,4,IrmanGusman,3,ISIS,1,Islamophobia,1,Israel,1,Istri Dimas kanjeng,1,Jaga Toleransi,1,Jajak Pendapat,1,Jakarta,23,Jembatan Waima,1,JEMI BERE,1,Jipik,1,Jokowi,5,Jokowi.,1,Jurnalistik,1,Kabar PMKRI Maumere,4,Kabar IMCS,1,Kabar PMKRI,11,Kabar PMKRI Ambon,3,Kabar PMKRI Bogor,1,Kabar PMKRI Bogor.,1,kabar PMKRI Denpasar,1,Kabar PMKRI Jambi,1,Kabar PMKRI Makassar,5,Kabar PMKRI Malang,2,Kabar PMKRI Mataram,1,Kabar PMKRI Nasional,1,Kabar PMKRI Nias,2,Kabar PMKRI Palopo,1,Kabar PMKRI Pekanbaru,5,Kabar PMKRI Pematangsiantar,4,Kabar PMKRI Pontianak,1,Kabar PMKRI Ruteng,5,Kabar PMKRI Samarinda,4,Kabar PMKRI Sintang,2,Kabar PMKRI Yogyakarta,2,Kabinet Indonesia Maju,1,Kabupaten Malaka,1,Kabupaten NAGEKEO,2,Kalbar,1,Kalimantan Selatan,2,Kampanye,2,Kapolda,1,Kapolda Metro Jaya,1,Kapolri,3,Kasidi,1,katedral makasar,3,Katolik,1,Keberagaman #KitaIndonesia,1,Kebhinekaan,2,KEJAGUNG,1,Kejari,1,kejari sikka,1,kejati bengkulu,1,Kekerasan Militer,1,Kekerasan Seksual,1,Kembalikan,1,Kemenag,1,Kemendes PDTT,1,Kemenkumham,2,Kesehatan,2,Khawatir MUI Ditunggangi,1,Kita Indonesia,16,KOMDA PAPUA,1,komda sumbagsel,1,komda timor,1,Kominfo,18,Komnas HAM,2,Komnas Perempuan,1,kompas media,1,Komputer,1,koneksi internet,1,KontraS,2,Korupsi,2,Korupsi Perum Perindo,1,KPK,4,KPU,1,KWI,1,Labuan bajo,1,LAMPUNG,2,Larantuka,1,Lembaga Kajian PP PMKRI,1,Lembaga Negara,1,Lidya Sartono,1,LIPI,1,LITERASI,1,LKK,1,LKPJ 2020,1,Logo PMKRI,1,Lulung,1,Mabim PMKRI Pontianak,1,Mahasiswa Papua,2,Mahmudi,1,Majelis Adat Dayak,1,Makasar,2,Makassar,1,Malang,1,MANGGARAI,2,Mario Fernandez,1,Mario Yosryandi Sara,2,Mars Wera,1,Maruarar Sirait,1,Marz Wera,1,Mata Rakyat,1,MEA,1,Megawati,1,meksiko,1,Menag,1,Menhan,1,Menkominfo,8,Menlu Tongkok,1,Michell Rompis,1,Militan,1,Militer,1,MIMIKA,1,MPAB,4,MPAB PMKRI Ruteng,1,MPAB/MABIM,1,Muchdi,1,Munir,1,Mutilasi,1,Myanmar,8,Nagekeo,1,Narkoba,1,Nasional,276,Natal 2018,1,Natal Bersama Kota Bogor.,1,Natalius Pigai,1,Nawacita Jokowi,2,Nawacita Jokowi Gagal,1,New York,3,Ngada,1,NKRI,1,NTT,2,NU,1,Obama,1,Okto Nahak,1,OMK,1,Opini,124,Orang Muda,1,Ormas,1,Otsus,2,Ovin Gili,1,Padang,1,Papua,7,Parade Bhineka Tunggal Ika,1,Pariwisata,1,Parno S. Mahulae,1,Partai Demokrat,2,Partai Komunis,1,Pasar Danga,1,Patung Buddha,1,Paulus Gemma Galgani,1,Paus,2,Paus Fransiskus,3,PB PMII,2,PBB,1,PDIP,1,Peduli Kemanuisan.,1,Pelayanan Publik,1,Pembangunan,1,Pemboman,2,Pemkot Malang,1,Pemkot Surabaya,1,pemprov jambi,1,Pemuda Katolik Papua Barat,1,Penangguhan,1,Pendidikan,2,Penembakan Anggota PMKRI,1,penistaan agama,1,Perbedaan,1,Perbup,1,Perempuan,1,PERMASNA,1,Pesan Prabowo,1,PHPT PP PMKRI,1,Pilkada,4,Pilkada Damai,1,Pilkada Jakarta,2,Pilpres 2019,5,Pilpres2019,5,PK Makassar,1,PKB,1,PLTP Mataloko,1,PMII,1,PMKRI,148,PMKRI Alor,1,PMKRI Ambon,4,PMKRI ATAMBUA,1,PMKRI Bali,2,PMKRI Balikpapan,1,PMKRI Bandar Lampung,4,PMKRI Banjarmasin,1,PMKRI Batam,1,PMKRI Bengkulu,12,PMKRI Bogor,2,PMKRI Cabang Ngada,1,PMKRI Calon Cabang Sambas,1,PMKRI Denpasar,3,PMKRI Ende,3,PMKRI Flores,1,PMKRI Gorontalo,1,PMKRI Gowa,2,PMKRI Jajakan Gowa,2,PMKRI Jakarta Pusat,18,PMKRI Jakarta Timur,1,PMKRI Jakarta Utara,4,PMKRI Jambi,6,PMKRI Jayapura,1,PMKRI Jember,1,PMKRI Jogja,1,PMKRI Juara,1,PMKRI Kalimantan Tengah,2,PMKRI Kapuas Hulu,2,PMKRI Kefa,2,PMKRI Kendari,3,PMKRI Kupang,14,PMKRI Lampung,3,PMKRI Langgur,6,PMKRI Larantuka,1,PMKRI Madiun,1,PMKRI Makassar,29,pmkri malaka,4,PMKRI Malang,9,PMKRI Manado,5,PMKRI Mataram,2,PMKRI Maumere,21,PMKRI Medan,5,PMKRI Ngada,1,PMKRI Nias,1,PMKRI Padang,1,Pmkri palangka Raya,7,Pmkri palangkaraya,3,PMKRI Palembang,8,PMKRI Palopo,12,PMKRI Palu,1,PMKRI Papua,2,PMKRI Peduli,6,PMKRI Pekanbaru,2,PMKRI Pematangsiantar,4,PMKRI Pontianak,1,PMKRI Regio Timor,1,PMKRI Ruteng,1,PMKRI Samarinda,8,PMKRI Sambas,1,PMKRI Saumlaki,1,PMKRI Siantar,6,PMKRI Sibolga,1,PMKRI Sintang,1,PMKRI Sorong,1,PMKRI Sumatera,1,PMKRI Sungai Raya,2,PMKRI Surabaya,7,PMKRI Surakarta,3,PMKRI Timika,1,PMKRI Timor,2,PMKRI Tomohon,2,PMKRI Tondano,4,PMKRI Toraja,10,PMKRI Tual,1,PMKRI Yogyakarta,1,PMRI Ende,1,PNS,1,Polemik UPR,1,Polisi,3,Politik,12,Politisasi SARA,1,POLRES KUPANG KOTA.,1,POLRES Sikka,1,POLRI,1,POLTEK Kupang,1,PP GMKI,1,PP PMKRI,34,PPKM,1,Presiden,1,Press Release,5,Pribumi,1,Profil,4,Prolegnas,1,Prostitusi Online,2,Puisi,15,Pungli,1,Putin,1,Radikalisme,1,Raja,1,RAKERNAS,1,RAKERNAS PMKRI,3,Ratna Sarumpaet,1,Refleksi Hari Kartini,2,Regial,2,Regional,261,Regional. PMKRI Sumatera,1,Rendi,1,Rendy Stevano,2,Restu Hapsari,1,Rikard Djegadut,1,Rinto Namang,1,Risma,1,Rizieq,2,Robertus Dagul,4,RSUD TC.HILLERS MAUMERE,1,RUAC,1,Rudal,1,Rumah,1,Rusia,1,RUU PKS,1,Sakinem,1,salman khan,1,Samarinda,3,Samarinda.,1,Sandiaga,1,satelit 6G,1,SENAT Mahasiswa,1,Seribu Lilin,1,Setya Novanto,2,Siaran Pers,3,SIKKA,2,Sistem,1,Siti Zuhro,1,Somalia,1,SPI,1,STKIP Betun,1,Stop Kekerasan Terhadap Perempuan,1,Strategi,1,Sukmawati,1,sulawesi barat,1,Sulawesi Selatan,2,sulsel,1,Sumba Timur,1,Suriah,1,Survei,1,Swedia,1,Tahan Ahok,1,Tahun Baru 2019,1,Taliban,1,Tanjung Balai,1,Tedy Ndarung,1,telegram kapolri,1,Teologi Maut,1,Tepo Seliro,1,Teresa,1,Terorisme,3,Thomas Tukan,2,Thomson Sabungan Silalahi,1,TKW,1,TNI,3,Tolak HTI,2,Tomson Silalahi,1,Tondano,1,toraja,2,Transaksi,1,Trump,3,Tumor Ganas,1,Uang,1,UNDANA Kupang,1,Unipa Maumere,2,Uskup Kupang,1,Ustad Yahya Waloni,1,UU ITE,1,Vaksin,3,Vatikan,6,Vebivorian,1,Verbivorian,8,Verbivorian. PMKRI Jakarta Pusat,2,Waduk Lambo.,1,Wali Kota,1,WaliKota,1,Wanita Berjilbab,1,Wartawan,1,Wartawan TEMPO,1,WhatsApp,1,WHO,1,Wikileaks,1,Wiranto,1,Wuhan,1,Xi Jimping,1,Yensiana,1,Yogen Sogen,4,
ltr
item
Verbivora.com: Gereja, Rakyat dan Kaum Intelektual Harus Bersatu Melawan Kejahatan Penguasa
Gereja, Rakyat dan Kaum Intelektual Harus Bersatu Melawan Kejahatan Penguasa
Gereja dan rakyat kaum intelektual harus masuk kewilayah ketertindasan rakyat untuk mendidik, menyadarkan serta merubah kondisi sosial yang menjerat.
https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgz1xzVoJb0noBqr5_SHbQNiA_2BUWMMWlgomRdTX9vnHqpb7XcBFhKz4ino5JzE49Aw42IflDXDNXkAHPBoLRSvk-pLjni8hynm0Ghf3mz5Fvkryc5CxnRfGRjVuD3hs3chH_ovQMUkLnNRMJnKa1ZRiRnGKWHopp_BMhHNIeGlRMWa6P3G2x9N7v6bQ=s16000
https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgz1xzVoJb0noBqr5_SHbQNiA_2BUWMMWlgomRdTX9vnHqpb7XcBFhKz4ino5JzE49Aw42IflDXDNXkAHPBoLRSvk-pLjni8hynm0Ghf3mz5Fvkryc5CxnRfGRjVuD3hs3chH_ovQMUkLnNRMJnKa1ZRiRnGKWHopp_BMhHNIeGlRMWa6P3G2x9N7v6bQ=s72-c
Verbivora.com
https://www.verbivora.com/2022/02/gereja-rakyat-dan-kaum-intelektual-harus-bersatu-melawan-kejahatan-penguasa.html
https://www.verbivora.com/
https://www.verbivora.com/
https://www.verbivora.com/2022/02/gereja-rakyat-dan-kaum-intelektual-harus-bersatu-melawan-kejahatan-penguasa.html
true
1552102979589694575
UTF-8
Semua postingan Belum ada postingan LIHAT SEMUA Selengkapnya Balas Batal Balas Delete Oleh Home HALAMAN POSTINGAN Lihat Semua Rekomendasi LABEL ARSIP SEARCH SEMUA POSTINGAN Tidak ditemukan postingan yang Anda cari Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Mgu Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu lalu Follower Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy