Sudirman dan Oerip Sumohardjo: Dwitunggal Angkatan Bersenjata

BAGIKAN:

Jakarta, Verbivora.com - Persatuan adalah kata kunci bagi suatu perjuangan. Mustahil melihat Indonesia merdeka tanpa adanya persatuan baik itu di kalangan sipil maupun (terutama) di kalangan militer. Sejarah mencatat bahwa pendirian Angkatan Bersenjata kita bukanlah sesuatu yang mulus tanpa adanya pertentangan dan penolakan di dalam tubuh Angkatan Bersenjata. 

Sudah sejak awal ada dua entitas prajurit yang menghiasi kancah militer Indonesia: prajurit eks-PETA dan prajurit eks-KNIL. Yang pertama merupakan warisan Jepang, sementara yang terakhir adalah produk Belanda. Keduanya punya warna dan tujuan organisasi yang berbeda. Menyatukan keduanya rasa-rasanya mustahil, namun di bawah satu nilai perjuangan yang sama, melawan penjajah, usaha untuk “menyatukan” dua entitas prajurit itu bisa dilakukan. 

Tentu saja usaha untuk menyatukan kedua entitas itu butuh pengorbanan; butuh kepemimpinan yang tidak biasa; dan butuh keutamaan sebagai seorang prajurit. Dalam rangka itu, sosok Jenderal Sudirman (eks perwira muda PETA) dan Jenderal Oerip Sumohardjo (eks perwira KNIL) menjadi dua tokoh sentral yang tampil dengan kepemimpinan yang berwibawa dan karismatik. 

Dwitunggal Angkatan Bersenjata: Sudirman dan Oerip Sumohardjo

Di pemerintahan sipil ada sosok dwitunggal Soekarno-Hatta yang menahkodai Indonesia selama masa revolusi, maka di lapangan perang ada dwitunggal Jenderal Sudirman dan Jenderal Oerip Soemohardjo. Kedua sosok ini adalah dwitunggal yang tidak saja mengendalikan jalannya pertempuran melawan Belanda, tetapi juga memastikan persatuan di kalangan prajurit yang berbeda latar belakang sejarah kemiliteran. 

Sebelum kita mengenal Tentara Nasional Indonesia (TNI), Angkatan Bersenjata kita bernama Barisan Keamanan Rakyat (BKR). Praktis Badan inilah yang berjuang di medan laga sebagai suatu kekuatan militer. Secara formal BKR berada di bawah suatu Komite Nasional Indonesia yang dipegang oleh otoritas sipil, tetapi dalam prakteknya setiap unit yang ada di bawah BKR berjalan sendiri-sendiri tanpa adanya kontrol dan komando yang jelas. Pemerintah tidak dapat mengendalikan atau bahkan memimpin unit-unit BKR yang kebanyakan berdiri sendiri itu, karena pemerintah sendiri sangat bingung mengenai peran yang seharusnya atau dapat mereka lakukan (Peter Britton, Profesionalisme dan Ideologi Militer Indonesia. Jakarta: Pustaka LP3S Indonesia, 1996. Hal. 45). 

Ketidakjelasan komando dan kontrol terhadap unit BKR jelas sebuah masalah di saat Indonesia membutuhkan suatu kekuatan militer untuk melawan baik Jepang maupun Belanda. Atas pertimbangan tersebut, pada tanggal 5 Oktober 1945 Badan Keamanan Rakyat diubah menjadi Tentara Kemanan Rakyat (TKR). 

TKR yang baru dibentuk itu diberikan kepada Mayor KNIL Oerip Sumohardjo yang memang merupakan seorang perwira KNIL yang sarat pengalaman sekaligus paham betul akan struktur organisasi militer. Bisa dikatakan para perwira KNIL itu tidak saja dilatih berperang, tetapi dipersiapkan menjadi “teknokrat militer” yang ahli dalam membangun suatu organisasi militer yang modern. 

Lantas, setelah TKR terbentuk, apakah masalah sudah selesai? Persoalan struktur dan komando barangkali bisa dikatakan menjadi akar masalah. Oerip adalah seorang perwira KNIL, sementara mayoritas tentara pejuang adalah para prajurit pejuang eks-PETA. Hadirnya Oerip sebagai pemegang pucuk pimpinan Angkatan Bersenjata tentu saja menjadi berita gembira bagi bekas perwira KNIL, tetapi tidak dengan para perwira eks-PETA yang notabene membawahi sejumlah pasukan penting di Jawa. 

Perubahan dari BKR ke TKR hanyalah perubahan nama saja. Para perwira eks-PETA, para perwira yang membawahi pasukan, saling bersaing satu sama lain untuk menguasai senjata dan cenderung tidak mau menerima perintah dari komando pusat. 

Oerip menyadari betul persoalan ini dan jika dibiarkan terus-menerus akan menyebabkan kerugian yang besar bagi Republik yang baru saja diproklamerkan itu. Oleh karena itu, pada medio November 1945 diadakanlah suatu rapat antara para komandan tertinggi dalam Angkatan Bersenjata yang bertujuan untuk memilih Panglima Angkatan Bersenjata yang baru yang dapat diterima oleh semua pihak. Rapat memutuskan mengangkat seorang perwira muda eks-PETA yang juga bekas guru di HIS Muhammadiyah: Sudirman. Sudirman yang kurang pengalaman dalam urusan tata kelola organisasi militer ditunjuk sebagai pengganti Oerip. 

Pergantian Panglima Angkatan Bersenjata itu tidak menimbulkan polemik yang berarti. Sudirman yang berlatar belakang seorang guru dan eks-PETA sadar betul akan kekurangannya terkait pengalaman akan tata kelola organisasi modern dalam tubuh militer. Pada saat yang bersamaan ia juga menaruh hormat yang begitu tinggi akan pengalaman Oerip yang memang memiliki latar belakang pengalaman dan pendidikan sebagai seorang teknokrat militer yang ahli dalam mengatur dan mengelola organisasi militer. 

Atas dasar itulah Sudirman mengangkat Oerip sebagai Kepala Staf yang mengatur tata kelola organisasi, sementara ia sendiri pemegang komando efektif atas bagian-bagian Angkatan Bersenjata yang mayoritas merupakan para perwira eks-PETA yang menaruh hormat kepadanya. 

Kolaborasi kedua tokoh militer yang karismatik itu mampu menyatukan Angkatan Bersenjata kita. Alhasil, Angkatan Bersenjata menjadi kuat dan berhasil menghalau kekuatan militer Belanda dalam aksi polisionil yang mereka lancarkan.  

Prajurit: Berkurban, Bersatu, Berkeutamaan 

Bagi Sudirman, esensi keprajuritan terletak pada semangat juang yang tinggi yang mau mengurbankan diri demi Indonesia merdeka. Seorang prajurit tidak saja berkurban untuk negara dan bangsa tetapi demi membela kebenaran dan keadilan yang merupakan hak suatu bangsa. Tetapi, pengurbanan itu hendaknya ditempa di atas semangat persatuan. 

“Semua pengorbananmu telah diberikan untuk satu tujuan suci, mempertahankan kebenaran dan keadilan. Pengorbanan diri harus menjadi perisai perjuangan kita. Perkuat keyakinanmu! Sucikan hatimu dan perbuatanmu! Pererat persatuanmu! Dengan rahmat Tuhan kemenangan akan berada di pihak kita, oleh karena Tuhan adalah Maha Tahu dan Maha Adil. Kamu semua harus ingat: tidak akan ada kemenangan kalau tidak ada kekuatan. Tidak ada nada kekuatan kalau tidak ada persatuan. Tidak akan ada persatuan kalau tidak ada keutamaan. Tidak akan ada keutamaan kalau tidak ada ajaran kejiwaan yang dapat mentahbiskan semua usaha kita” (Benedict Anderson, Java in a Time of Revolution: Occupation and Resistance 1944-1946. Ithaca: Cornell University Press, 1972. Hal 376-77). 

Cuplikan pidato yang dikutip oleh Ben Anderson di atas adalah pernyataan jitu Jenderal Besar Soedirman tentang sosok satria yang unggul. Satria yang unggul adalah satria yang mengedepankan keutamaan-keutamaan dalam rangka mempertahankan kemerdekaan nasional sebagai “kebenaran dan keadilan”. 

Kekuatan utama Angkatan Perang Indonesia, menurut Jenderal Sudirman, adalah persatuan. Tanpa persatuan kekuatan tidak akan mampu diarahkan untuk suatu perjuangan; tanpa persatuan tidak akan ada keutamaan jiwa yang mementingkan agenda perjuangan nasional. 

Sejak awal kepemimpinannya di dalam tubuh Angkatan Perang, Jenderal Soedirman tak sekedar berjuang untuk mengusir Belanda dalam Aksi Polisionil I dan II, tetapi memantapkan suatu filosofi kesatriaan di dalam perjuangan yakni persatuan. Menurutnya, persatuan adalah senjata rahasia, senjata pamungkas, di tengah segala kekurangan model persenjataan dibanding Belanda.

“…Kita terus terang mengakui, bahwa persenjataan tentara kita masih sangat kurang, apabila dibandingkan dengan persenjataan musuh yang serba lengkap dan modern. Oleh karena itu hendaknya perjuangan kita harus kita dasarkan atas kesucian. Dengan demikian perjuangan kita lalu merupakan perjuangan antara yang jahat dan melawan yang suci. Kita percaya bahwa perjuangan yang suci itu senantiasa mendapat pertolongan dari Tuhan. Apabila perjuangan kita sudah kita dasarkan atas kesucian, kekuatan batin inilah yang akan menang. Sebab, jikalau perjuangan kita tidak suci, perjuangan itu hanya akan berupa perjuangan antara yang jahat melawan yang tidak suci dan perjuangan lahir melawan lahir juga, yang akhirnya tentu si kuat yang menang” (Pusat Sedjarah Militer Angkatan Darat, Biografi Militer dan Pedjuang Indonesia No. 1 Djenderal Sudirman, Bandung: 1959. Hal. 27).

Semangat persatuan itu yang hendaknya menjadi pedoman bagi militer Indonesia hari ini. Negara membutuhkan sinergitas militer tiga matra untuk menghadapi ancaman dan potensi ancaman yang sudah dan akan menghantam Indonesia. Seperti kata Presiden Joko Widodo dalam HUT TNI ke-76: “…Kesigapan TNI ini juga saya minta untuk selalu diaktifkan dalam menghadapi spektrum ancaman yang lebih luas seperti pelanggaran kedaulatan, pencurian kekayaan alam di laut, radikalisme, terorisme, ancaman siber dan ancaman biologis, termasuk juga ancaman bencana alam.” *(AR)

Oleh: Rinto Namang (Aktivis PMKRI)

Sudirman dan Oerip Sumohardjo: Dwitunggal Angkatan Bersenjata


KOMENTAR

Nama

#Kita_Indonesia,19,#Pilpres2019,4,#RUUPesantrendanPendidikanKeagamaan.,1,Aceh utara,1,Afganistan,1,afrika,1,Agama,1,Agus,1,Agustina Doren,3,Ahok,4,Aksi 2 Desember,1,Aksi Damai,1,Aktivis,2,Alboin Samosir,1,Alfred R. Januar Nabal,1,Amandemen,1,Amnesti,1,Anas,1,Anastasia Rosalinda,1,Anastasia Rosalinda B,1,ANBTI,1,Andre Pareira,1,Angelo Wake Kako,1,Anies,1,Anies-Sandi,1,Anis Baswedan,1,Apel Kebangsaan,1,Artikel,16,AS,3,B ERITA PMKRI,1,BADJA NTT,1,Bandung,1,Banjarmasin,1,Bara Pattyradja,2,Bayi,1,Beijing,1,Beijng,1,Berita,2,berita PMKRI,2,Berita PMKRI Kupang,2,Berita PMKRI Pusat,16,Berita PMKRI Ruteng,2,Berita PMKRI Samarinda,2,Bhumibol,1,Bogor,2,Bogor Tolak Khilafah,1,Bone,1,BPK,1,BPKP,1,Buaya,1,BUMN,1,Bunda,1,Buni yani,1,Bupati Lembata,1,BUPATI NAGEKEO,1,Cagub,1,Cegah Radikalisme,3,Cerpen,3,CHINA,1,Chrisantus Nana,1,cina,1,Cipayung Plus,1,covid-19,3,Daerah,35,Demo Susulan,1,Demokrasi,7,Den Haag,1,Denpasar,1,Densus Tipikor,1,Desa Bantala,1,Desak,1,Dhani,1,Dialog,1,Dibekap,1,Dibenturkan,1,Diciduk,1,Diplomasi,1,Dipolisikan,1,Dirjen Bimas Katolik,1,Disintegrasi Bangsa,1,Ditangkap,4,Ditendang,1,Diteror,1,Djarot,1,DONASI BUKU,1,DPD,4,DPD-RI,1,DPR RI,1,DPRD NTT,1,Dukun,1,Duta Genre,1,Efraim Mbomba Reda,1,Ekologi,1,Eksekusi,1,Epenk Djawang,2,Era 4.0,1,Erens Holivil,1,ESDM,1,Fahri,1,Febby Siharina,1,Filipina,1,Flores Timur,2,Florianus Herminus Mau,1,Fokus,9,Freeport,2,Gabriel Toang,1,Gadungan,1,GAME ONLINE,2,Geert Wilder,1,Gempa Lombok,6,Gempa NTB,3,Gempa Palu,3,Gempa Palu #Kita_Indonesia,4,Glen Fredly,1,GMKI,5,GMKI Makassar,1,GMNI Makassar,1,GMNI Sumut,4,GP Ansor,1,Gratifikasi,1,Greget,1,GUSDURian,1,Gusma,1,Habib Riziq,1,Habibie,1,Hacker WhatsApp,1,HAITI,1,Hari HAM,5,Hari Kartini,3,Hari Pahlawan,3,hari sumpah pemuda,1,Hari Valentine,1,Hillary,1,Hillary Clinton,1,HIMAPEN JABODETABEK,1,Hindari Kriminalisasi,1,Hoax,1,Human Trafficking,2,ICRP,1,ICW,1,Ignatius Pati Ola,1,IKASANTRI,2,Impor Garam,1,india,1,inggris,1,Intan,1,Intelijen,1,Internasional,50,Irak,4,IrmanGusman,3,ISIS,1,Islamophobia,1,Israel,1,Istri Dimas kanjeng,1,Jaga Toleransi,1,Jajak Pendapat,1,Jakarta,23,Jembatan Waima,1,JEMI BERE,1,Jipik,1,Jokowi,5,Jokowi.,1,Jurnalistik,1,Kabar PMKRI Maumere,4,Kabar IMCS,1,Kabar PMKRI,11,Kabar PMKRI Ambon,3,Kabar PMKRI Bogor,1,Kabar PMKRI Bogor.,1,kabar PMKRI Denpasar,1,Kabar PMKRI Jambi,1,Kabar PMKRI Makassar,5,Kabar PMKRI Malang,2,Kabar PMKRI Mataram,1,Kabar PMKRI Nasional,1,Kabar PMKRI Nias,2,Kabar PMKRI Palopo,1,Kabar PMKRI Pekanbaru,5,Kabar PMKRI Pematangsiantar,4,Kabar PMKRI Pontianak,1,Kabar PMKRI Ruteng,5,Kabar PMKRI Samarinda,4,Kabar PMKRI Sintang,2,Kabar PMKRI Yogyakarta,2,Kabinet Indonesia Maju,1,Kabupaten Malaka,1,Kabupaten NAGEKEO,1,Kalbar,1,Kalimantan Selatan,2,Kampanye,2,Kapolda,1,Kapolda Metro Jaya,1,Kapolri,3,Kasidi,1,katedral makasar,3,Katolik,1,Keberagaman #KitaIndonesia,1,Kebhinekaan,2,KEJAGUNG,1,Kejari,1,kejati bengkulu,1,Kekerasan Militer,1,Kekerasan Seksual,1,Kembalikan,1,Kemenag,1,Kemendes PDTT,1,Kemenkumham,2,Kesehatan,2,Khawatir MUI Ditunggangi,1,Kita Indonesia,16,KOMDA PAPUA,1,komda sumbagsel,1,komda timor,1,Kominfo,18,Komnas HAM,2,Komnas Perempuan,1,kompas media,1,Komputer,1,koneksi internet,1,KontraS,2,Korupsi,2,Korupsi Perum Perindo,1,KPK,4,KPU,1,KWI,1,Labuan bajo,1,LAMPUNG,2,Larantuka,1,Lembaga Kajian PP PMKRI,1,Lembaga Negara,1,Lidya Sartono,1,LIPI,1,LITERASI,1,LKK,1,Logo PMKRI,1,Lulung,1,Mabim PMKRI Pontianak,1,Mahasiswa Papua,2,Mahmudi,1,Majelis Adat Dayak,1,Makasar,2,Makassar,1,Malang,1,MANGGARAI,2,Mario Fernandez,1,Mario Yosryandi Sara,2,Mars Wera,1,Maruarar Sirait,1,Marz Wera,1,Mata Rakyat,1,MEA,1,Megawati,1,meksiko,1,Menag,1,Menhan,1,Menkominfo,8,Menlu Tongkok,1,Michell Rompis,1,Militan,1,Militer,1,MIMIKA,1,MPAB,4,MPAB PMKRI Ruteng,1,MPAB/MABIM,1,Muchdi,1,Munir,1,Mutilasi,1,Myanmar,8,Nagekeo,1,Narkoba,1,Nasional,256,Natal 2018,1,Natal Bersama Kota Bogor.,1,Natalius Pigai,1,Nawacita Jokowi,2,Nawacita Jokowi Gagal,1,New York,3,Ngada,1,NKRI,1,NTT,2,NU,1,Obama,1,Okto Nahak,1,OMK,1,Opini,110,Orang Muda,1,Ormas,1,Otsus,2,Ovin Gili,1,Padang,1,Papua,6,Parade Bhineka Tunggal Ika,1,Pariwisata,1,Parno S. Mahulae,1,Partai Demokrat,2,Partai Komunis,1,Pasar Danga,1,Patung Buddha,1,Paulus Gemma Galgani,1,Paus,2,Paus Fransiskus,3,PB PMII,2,PBB,1,PDIP,1,Peduli Kemanuisan.,1,Pelayanan Publik,1,Pembangunan,1,Pemboman,2,Pemkot Malang,1,Pemkot Surabaya,1,pemprov jambi,1,Pemuda Katolik Papua Barat,1,Penangguhan,1,Pendidikan,2,Penembakan Anggota PMKRI,1,penistaan agama,1,Perbedaan,1,Perbup,1,Perempuan,1,Pesan Prabowo,1,PHPT PP PMKRI,1,Pilkada,4,Pilkada Damai,1,Pilkada Jakarta,2,Pilpres 2019,5,Pilpres2019,5,PK Makassar,1,PKB,1,PLTP Mataloko,1,PMII,1,PMKRI,127,PMKRI Alor,1,PMKRI Ambon,4,PMKRI ATAMBUA,1,PMKRI Bali,1,PMKRI Balikpapan,1,PMKRI Bandar Lampung,4,PMKRI Banjarmasin,1,PMKRI Batam,1,PMKRI Bengkulu,12,PMKRI Bogor,1,PMKRI Cabang Ngada,1,PMKRI Calon Cabang Sambas,1,PMKRI Denpasar,3,PMKRI Ende,3,PMKRI Flores,1,PMKRI Gorontalo,1,PMKRI Jajakan Gowa,2,PMKRI Jakarta Pusat,17,PMKRI Jakarta Timur,1,PMKRI Jakarta Utara,2,PMKRI Jambi,6,PMKRI Jayapura,1,PMKRI Jogja,1,PMKRI Juara,1,PMKRI Kalimantan Tengah,2,PMKRI Kapuas Hulu,1,PMKRI Kefa,2,PMKRI Kendari,3,PMKRI Kupang,13,PMKRI Lampung,3,PMKRI Langgur,5,PMKRI Larantuka,1,PMKRI Madiun,1,PMKRI Makassar,23,pmkri malaka,4,PMKRI Malang,7,PMKRI Manado,4,PMKRI Mataram,1,PMKRI Maumere,20,PMKRI Medan,5,PMKRI Nias,1,PMKRI Padang,1,Pmkri palangka Raya,6,Pmkri palangkaraya,3,PMKRI Palembang,7,PMKRI Palopo,8,PMKRI Palu,1,PMKRI Papua,2,PMKRI Peduli,6,PMKRI Pekanbaru,2,PMKRI Pematangsiantar,4,PMKRI Pontianak,1,PMKRI Regio Timor,1,PMKRI Samarinda,8,PMKRI Sambas,1,PMKRI Saumlaki,1,PMKRI Siantar,6,PMKRI Sibolga,1,PMKRI Sintang,1,PMKRI Sorong,1,PMKRI Sumatera,1,PMKRI Sungai Raya,2,PMKRI Surabaya,4,PMKRI Surakarta,2,PMKRI Timika,1,PMKRI Timor,2,PMKRI Tomohon,2,PMKRI Tondano,4,PMKRI Toraja,8,PMKRI Tual,1,PMKRI Yogyakarta,1,PMRI Ende,1,PNS,1,Polemik UPR,1,Polisi,3,Politik,11,Politisasi SARA,1,POLRES Sikka,1,POLRI,1,POLTEK Kupang,1,PP GMKI,1,PP PMKRI,32,PPKM,1,Presiden,1,Press Release,5,Pribumi,1,Profil,4,Prolegnas,1,Prostitusi Online,2,Puisi,15,Pungli,1,Putin,1,Radikalisme,1,Raja,1,RAKERNAS,1,RAKERNAS PMKRI,3,Ratna Sarumpaet,1,Refleksi Hari Kartini,2,Regional,233,Regional. PMKRI Sumatera,1,Rendi,1,Rendy Stevano,2,Restu Hapsari,1,Rikard Djegadut,1,Rinto Namang,1,Risma,1,Rizieq,2,Robertus Dagul,4,RUAC,1,Rudal,1,Rumah,1,Rusia,1,RUU PKS,1,Sakinem,1,salman khan,1,Samarinda,3,Samarinda.,1,Sandiaga,1,satelit 6G,1,SENAT Mahasiswa,1,Seribu Lilin,1,Setya Novanto,2,Siaran Pers,3,SIKKA,2,Sistem,1,Siti Zuhro,1,Somalia,1,SPI,1,STKIP Betun,1,Stop Kekerasan Terhadap Perempuan,1,Strategi,1,Sukmawati,1,sulawesi barat,1,Sulawesi Selatan,2,sulsel,1,Suriah,1,Survei,1,Swedia,1,Tahan Ahok,1,Tahun Baru 2019,1,Taliban,1,Tanjung Balai,1,Tedy Ndarung,1,telegram kapolri,1,Teologi Maut,1,Tepo Seliro,1,Teresa,1,Terorisme,3,Thomas Tukan,2,Thomson Sabungan Silalahi,1,TKW,1,TNI,3,Tolak HTI,2,Tomson Silalahi,1,Tondano,1,toraja,1,Transaksi,1,Trump,3,Tumor Ganas,1,Uang,1,UNDANA Kupang,1,Unipa Maumere,2,Uskup Kupang,1,Ustad Yahya Waloni,1,UU ITE,1,Vaksin,3,Vatikan,6,Vebivorian,1,Verbivorian,8,Verbivorian. PMKRI Jakarta Pusat,2,Wali Kota,1,WaliKota,1,Wanita Berjilbab,1,Wartawan,1,Wartawan TEMPO,1,WhatsApp,1,WHO,1,Wikileaks,1,Wiranto,1,Wuhan,1,Xi Jimping,1,Yensiana,1,Yogen Sogen,4,
ltr
item
Verbivora.com: Sudirman dan Oerip Sumohardjo: Dwitunggal Angkatan Bersenjata
Sudirman dan Oerip Sumohardjo: Dwitunggal Angkatan Bersenjata
Di pemerintahan sipil ada sosok dwitunggal Soekarno-Hatta, maka di lapangan perang ada dwitunggal Jenderal Sudirman dan Jenderal Oerip Soemohardjo.
http://www.satujam.com/wp-content/uploads/2017/08/Jenderal-Sudirman-Pernah-Menjadi-Guru.jpg
Verbivora.com
https://www.verbivora.com/2021/10/sudirman-dan-oerip-sumohardjo.html
https://www.verbivora.com/
https://www.verbivora.com/
https://www.verbivora.com/2021/10/sudirman-dan-oerip-sumohardjo.html
true
1552102979589694575
UTF-8
Semua postingan Belum ada postingan LIHAT SEMUA Selengkapnya Balas Batal Balas Delete Oleh Home HALAMAN POSTINGAN Lihat Semua Rekomendasi LABEL ARSIP SEARCH SEMUA POSTINGAN Tidak ditemukan postingan yang Anda cari Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Mgu Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu lalu Follower Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy